KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Tabuhan gendang dan gong terdengar mengiringi langkah para Belian dalam suasana malam yang penuh kekhidmatan. Di tengah rangkaian persiapan menuju Erau Adat Kuta Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kesultanan kembali menggelar salah satu ritual penting yang dikenal dengan nama Merangin.
Prosesi ini dilaksanakan pada malam hari di luar keraton, sekaligus menjadi penanda kepada masyarakat bahwa pelaksanaan pesta adat dan budaya Erau semakin dekat. Namun, Merangin bukan sekadar pemberitahuan secara simbolis. Ritual ini menjadi bagian dari perjalanan para Belian dalam menjalankan tugas dan perintah Sultan.
Dalam tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Merangin dimaknai sebagai awal sebuah perjalanan. Para Belian menjalankan perjalanan dengan mendatangi rumah-rumah warga maupun sejumlah tempat yang telah ditentukan dan sebelumnya diundang dalam rangkaian kegiatan adat.
Setiap kunjungan memiliki makna tersendiri. Para Belian melakukan besoan atau melapor, menyampaikan bahwa rangkaian Erau akan dilaksanakan, sekaligus mengajak dan memberikan penghormatan kepada pihak yang dituju. Perjalanan tersebut dalam pemaknaan ritual juga mencakup dimensi spiritual yang tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang dapat dilihat secara kasatmata.
Rangkaian Merangin diawali dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara. Tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini kemudian bergerak mengelilingi Binyawan yang berada di bagian tengah bangunan.
Beras kuning ditaburkan dalam beberapa bagian prosesi. Sementara itu, suara gendang dan gong terus mengalun, menciptakan suasana yang semakin sakral. Gerakan para Belian Laki yang berputar mengelilingi Binyawan menjadi salah satu bagian utama ritual sebelum ditutup dengan tarian tujuh Belian Bini.
Secara berurutan, para Belian Bini menari mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali. Gerakan dan iringan musik tersebut menjadi bagian dari simbol perjalanan yang tengah dijalankan dalam rangkaian adat Erau.
Koordinator Belian, Sartin, mengatakan Merangin merupakan kelanjutan dari sejumlah prosesi yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari titik Bende, Beluluh Sultan, hingga Menjamu Benua.
“Merangin merupakan perjalanan yang diperintahkan Sultan untuk menyampaikan berbagai pekerjaan yang nantinya diserahkan kepada Kesultanan,” kata Sartin.
Ia menjelaskan, perjalanan tersebut nantinya berkaitan dengan rangkaian Tepung Tawar atau Puja Bantan Tepung Tawar Kampung Ratu Baris Aji. Para Belian juga tetap menjalankan tradisi mendatangi rumah dan tempat yang telah ditentukan untuk menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan Erau.
Menariknya, menurut Sartin, perjalanan Merangin tidak hanya dimaknai secara fisik. Dalam tradisi ritual, perjalanan tersebut juga diyakini berlangsung dalam dimensi spiritual.
“Secara raga kita terlihat berjalan, tetapi secara jiwa kita juga menjalani perjalanan tersebut,” ujarnya.
Pelaksanaan Merangin kali ini telah memasuki malam kedua. Tahapan tersebut menjadi bagian dari perjalanan para Belian untuk menyampaikan berbagai hal kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan rangkaian ritual, baik yang berada dalam kehidupan nyata maupun yang dimaknai hadir dalam dimensi spiritual.
Sartin menambahkan, secara filosofis, kata Merangin dimaknai sebagai perjalanan yang baru dimulai. Sebuah perjalanan untuk menjalankan tugas hingga seluruh rangkaian yang telah diperintahkan dapat dilaksanakan.
“Merangin kita filosofikan sebagai perjalanan yang baru mulai untuk melaksanakan tugas. Karena itu, malam ini merupakan Merangin Dua,” jelasnya.
Ritual Merangin pun menjadi salah satu gambaran bahwa pelaksanaan Erau tidak hanya menghadirkan kemeriahan pesta adat dan budaya. Jauh sebelum puncak perayaan berlangsung, berbagai ritual sakral terlebih dahulu dijalankan sebagai bagian dari perjalanan adat yang sarat makna dan menjadi warisan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pewarta : Fairuzzabady Editor : Fairuzzabady @2026












