Menu ✖

Mode Gelap
Operasi Sarang Narkoba di Gunung Bugis, 58 Orang Diamankan Polisi PWI Kukar Hadir untuk Korban Kebakaran Danau Aji, Salurkan Bantuan Bahan Pokok DPRD Samarinda Perketat Aturan Reklame, Bangunan Liar Terancam Dibongkar Arie Wibowo Ingatkan Pemkot Samarinda, Penanganan Banjir Jangan Kalah dari Penataan Kota Efisiensi Anggaran Tekan Bisnis Hotel di Samarinda, Helmi Abdullah Dorong Strategi Baru

BERITA DAERAH · 29 Jun 2026 14:00 WITA ·

Iswandi Minta Pemerintah Tetapkan Indikator Jelas Kelas Menengah, Soroti Efektivitas Program Nasional


 Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai pemerintah perlu menetapkan indikator yang jelas dalam menentukan kategori masyarakat kelas menengah agar kebijakan subsidi dan program bantuan dapat tepat sasaran, terutama di tengah dampak kenaikan harga BBM. Foto: Fathur Rabbany. Perbesar

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai pemerintah perlu menetapkan indikator yang jelas dalam menentukan kategori masyarakat kelas menengah agar kebijakan subsidi dan program bantuan dapat tepat sasaran, terutama di tengah dampak kenaikan harga BBM. Foto: Fathur Rabbany.

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai pemerintah perlu memiliki indikator yang jelas dalam menentukan kategori masyarakat kelas menengah, terutama sebagai dasar penyusunan kebijakan subsidi dan langkah antisipasi terhadap dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Menurutnya, definisi yang tepat akan membuat program bantuan pemerintah lebih tepat sasaran.

Pernyataan tersebut disampaikan Iswandi usai memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran PT BPR Bank Samarinda di DPRD Kota Samarinda, Senin (29/6/2026).

Ia mengatakan, hingga saat ini istilah masyarakat kelas menengah masih sering digunakan tanpa disertai parameter yang jelas. Karena itu, pemerintah perlu menetapkan ukuran yang objektif, baik berdasarkan tingkat pendapatan, aset, tabungan, maupun indikator ekonomi lainnya.

“Harus ada ukuran yang jelas. Jangan sampai kita keliru mendefinisikan siapa yang termasuk kelas menengah,” ujar Iswandi.

Menurutnya, status seseorang sebagai masyarakat kelas menengah tidak bisa hanya diukur dari fakta bahwa yang bersangkutan tidak lagi menerima bantuan sosial. Kondisi ekonomi masyarakat sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu akibat berbagai faktor, termasuk perlambatan ekonomi maupun pemutusan hubungan kerja (PHK).

Iswandi menjelaskan, masyarakat yang memiliki penghasilan di atas Upah Minimum Regional (UMR) memang umumnya tidak lagi masuk dalam kelompok penerima bantuan pemerintah. Namun, apabila terjadi PHK atau penurunan pendapatan, mereka berpotensi masuk ke kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan negara.

“Kalau terjadi PHK, tentu data masyarakat penerima bantuan juga akan bergeser,” katanya.

Ia mengaku mencermati potensi meningkatnya PHK di berbagai sektor seiring adanya perpindahan sejumlah industri ke negara lain yang dinilai lebih kompetitif. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diantisipasi pemerintah melalui kebijakan ekonomi yang mampu menjaga lapangan kerja dan daya beli masyarakat.

Meski demikian, Iswandi mengakui ruang gerak pemerintah daerah dalam merespons kondisi tersebut cukup terbatas karena sebagian besar kemampuan fiskal masih bergantung pada Transfer Keuangan Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.

“Daerah memiliki keterbatasan karena anggaran masih sangat bergantung pada pemerintah pusat,” ungkapnya.

Selain menyoroti persoalan kelas menengah, Iswandi juga mendorong pemerintah pusat melakukan evaluasi dan rasionalisasi terhadap sejumlah program nasional yang dinilai belum menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, efisiensi anggaran perlu dilakukan agar belanja negara dapat difokuskan pada program yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Ia mencontohkan wacana efisiensi anggaran pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski langkah tersebut dinilai positif, penghematan yang dihasilkan masih perlu dioptimalkan untuk menjawab tantangan fiskal yang lebih besar.

Di sisi lain, Iswandi juga mengkritisi pelaksanaan Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menurutnya diterapkan secara serentak tanpa didahului uji coba atau proyek percontohan. Ia menilai setiap kebijakan nasional seharusnya diuji terlebih dahulu di berbagai karakter wilayah sebelum diterapkan secara luas.

“Program sebesar ini seharusnya diawali dengan role model, dievaluasi, lalu disempurnakan sebelum diterapkan secara nasional,” tegasnya.

Menurut Iswandi, proyek percontohan perlu dilakukan di wilayah dengan karakteristik berbeda, seperti kawasan pesisir, pegunungan, pedesaan, dan perkotaan. Dengan demikian, pemerintah dapat mengidentifikasi berbagai kendala teknis serta menyempurnakan mekanisme pelaksanaan sebelum program diperluas.

Ia juga mempertanyakan materi pelatihan dalam program KDMP yang memasukkan unsur latihan militer. Menurutnya, pengelola koperasi justru lebih membutuhkan peningkatan kapasitas di bidang manajemen usaha, akuntansi, pembukuan, pemasaran, dan tata kelola koperasi.

“Pengurus koperasi lebih membutuhkan pelatihan manajemen dan bisnis daripada latihan militer,” ujarnya.

Iswandi menambahkan, Kota Samarinda diperkirakan akan memiliki 59 Koperasi Desa Merah Putih yang tersebar di seluruh kelurahan. Karena itu, ia berharap pemerintah menyusun perencanaan yang matang, didukung kajian yang komprehensif, serta mekanisme evaluasi yang jelas agar program tersebut benar-benar mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan tidak sekadar menjadi program administratif.

 

ADV DPRD Kota Samarinda
Pewarta : Fathur Rabbany
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

PWI Kukar Hadir untuk Korban Kebakaran Danau Aji, Salurkan Bantuan Bahan Pokok

9 Oktober 2026 - 17:00 WITA

DPRD Samarinda Perketat Aturan Reklame, Bangunan Liar Terancam Dibongkar

9 Oktober 2026 - 16:00 WITA

Arie Wibowo Ingatkan Pemkot Samarinda, Penanganan Banjir Jangan Kalah dari Penataan Kota

9 Oktober 2026 - 15:00 WITA

Efisiensi Anggaran Tekan Bisnis Hotel di Samarinda, Helmi Abdullah Dorong Strategi Baru

9 Oktober 2026 - 14:00 WITA

AMSI Kaltim Dorong Kolaborasi dengan Pemkot Balikpapan, Bahas Akurasi Informasi dan Regulasi Media

9 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Kebakaran Muara Muntai, Kerugian Ditaksir Rp2 Miliar

9 Oktober 2026 - 09:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH