KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (1/9/2026), mengancam pusat rehabilitasi orangutan yatim piatu.
Kobaran api yang awalnya muncul di Area Penggunaan Lain (APL) di sekitar kawasan, kemudian merambat hingga masuk ke perimeter KHDTK. Kondisi tersebut membuat 11 orangutan yang berada di area Sekolah Hutan harus segera dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Evakuasi dilakukan secara terpadu oleh Yayasan Jejak Pulang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU). Seluruh orangutan berhasil dipindahkan menuju Kandang Evakuasi atau Kandang Karantina di Kilometer 38 Samboja tanpa korban jiwa.
General Manager Yayasan Jejak Pulang, Rahmat Novirsal, mengatakan kondisi kawasan pada pagi hari masih relatif aman karena pengawasan dilakukan secara rutin. Namun, sekitar pukul 12.30 WITA, kebakaran di wilayah APL mulai membesar dan semakin sulit dikendalikan akibat angin kencang.
“Sekitar setengah satu mulai terlihat kebakaran di area APL. Jam 4 sore, api melompat ke KHDTK,” ujar Rahmat, Jumat (4/9/2026).
Sebelum tim Manggala Agni tiba, petugas internal telah melakukan upaya mitigasi untuk menahan laju api. Namun, kuatnya tiupan angin membuat penanganan awal tidak cukup untuk menghentikan kobaran yang semakin meluas.
Sekitar pukul 16.00 WITA, api akhirnya masuk ke kawasan KHDTK. Status darurat langsung diaktifkan dan tim animal keeper mengarahkan 11 orangutan menuju jalur evakuasi di sekitar sungai yang dinilai lebih aman dan memiliki akses lebih dekat menuju pintu keluar Sekolah Hutan.
Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, menjelaskan bahwa persiapan menghadapi ancaman karhutla telah dilakukan sejak jauh hari. Para penjaga bahkan telah diarahkan untuk berada lebih dekat dengan sungai karena kawasan tersebut lebih sejuk, memiliki sumber air, dan memudahkan proses evakuasi jika kondisi semakin memburuk.
“Begitu status emergency diaktifkan, penjaga langsung membawa orangutan ke area aman,” kata Siti.
Proses evakuasi berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WITA. Kendaraan pendukung dari Jejak Pulang dan BKSDA Kaltim dikerahkan untuk memindahkan seluruh orangutan secara bertahap menuju fasilitas evakuasi di Kilometer 38 Samboja.
Sementara itu, Manggala Agni bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman di dalam kawasan KHDTK. Sekitar pukul 18.30 WITA, kobaran api di area tersebut berhasil dipadamkan.
Menurut Rahmat, kesiapsiagaan menghadapi karhutla di kawasan rehabilitasi orangutan telah dibangun sejak Juni 2026. Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi untuk mengantisipasi ancaman kebakaran di tengah kondisi kemarau dan potensi pengaruh El Niño.
“Kesiapsiagaan sudah dilakukan sejak Juni,” ujarnya.
Keberhasilan evakuasi tersebut menjadi bagian penting dalam perlindungan satwa, mengingat KHDTK Samboja memiliki luas sekitar 3.500 hektare, sementara area Sekolah Hutan yang menjadi lokasi rehabilitasi mencapai sekitar 130 hektare.
Meski seluruh orangutan telah berada di lokasi aman, tantangan berikutnya adalah menjaga kondisi dan kesejahteraan satwa selama berada di kandang. Perpindahan dari lingkungan hutan ke ruang yang lebih terbatas membuat sejumlah orangutan terlihat mengalami kebosanan karena tidak memperoleh ruang gerak dan stimulasi alami seperti ketika berada di Sekolah Hutan.
Di habitat hutan, orangutan dapat bergerak bebas, mengayun dari satu kanopi ke kanopi lain menggunakan liana, serta memperoleh pakan alami. Karena itu, tim tetap memberikan pengayaan atau enrichment untuk menjaga stimulasi fisik dan kognitif satwa.
Sejumlah fasilitas di dalam kandang juga dibuat menyerupai kondisi hutan, termasuk pemasangan tali yang dapat digunakan orangutan untuk mengayun. Langkah tersebut dilakukan agar proses rehabilitasi tetap berjalan sekaligus meminimalkan dampak stres setelah evakuasi akibat karhutla.
Pewarta : Fairuzzabady Editor : Fairuzzabady @2026












