Menu ✖

Mode Gelap
Kemiskinan Pedesaan NTT Capai 21,64 Persen, Forum Pemuda Desak Penguatan Ekonomi Desa AMSI Kaltim dan DPRD Balikpapan Siapkan Forum Refleksi Dua Tahun Kinerja Legislatif DPRD Samarinda Dorong Pendataan Disabilitas Lebih Akurat Agar Bantuan Tepat Sasaran Harminsyah Dorong Penguatan Peran Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit di Samarinda Sekitar 75 Rumah Terdampak Kebakaran di Tenggarong, Keterbatasan Air Jadi Kendala

BERITA DAERAH · 4 Sep 2026 18:00 WITA ·

Karhutla Merambat ke KHDTK Samboja, 11 Orangutan Berhasil Diselamatkan


 Sebanyak 11 orangutan yatim piatu berhasil dievakuasi dari area rehabilitasi Yayasan Jejak Pulang setelah karhutla merambat dari APL ke KHDTK Samboja, Kutai Kartanegara, Selasa (1/9/2026). Evakuasi dilakukan menyusul kobaran api yang membesar akibat angin kencang. Perbesar

Sebanyak 11 orangutan yatim piatu berhasil dievakuasi dari area rehabilitasi Yayasan Jejak Pulang setelah karhutla merambat dari APL ke KHDTK Samboja, Kutai Kartanegara, Selasa (1/9/2026). Evakuasi dilakukan menyusul kobaran api yang membesar akibat angin kencang.

KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memaksa tim penyelamat mengevakuasi 11 orangutan yatim piatu yang tengah menjalani rehabilitasi.

Kebakaran terjadi pada Selasa (1/9/2026) dan merambat dari Area Penggunaan Lain (APL) hingga mendekati bahkan memasuki kawasan KHDTK. Kobaran api yang semakin besar akibat angin kencang membuat area Sekolah Hutan yang menjadi lokasi rehabilitasi berada dalam situasi darurat.

Tim Yayasan Jejak Pulang bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Manggala Agni, dan Wildlife Rescue Unit (WRU) kemudian bergerak cepat mengamankan seluruh satwa. Sebanyak 11 orangutan dipindahkan secara bertahap menuju kandang evakuasi di Kilometer 38 Samboja.

Proses evakuasi berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WITA. Pemindahan dilakukan menggunakan kendaraan pendukung dengan mempertimbangkan kondisi satwa dan keamanan jalur evakuasi. Seluruh orangutan berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa.

Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, mengatakan kondisi seluruh orangutan setelah dipindahkan masih dalam keadaan baik. Tim medis tetap melakukan observasi untuk memastikan tidak ada gangguan kesehatan akibat asap maupun proses evakuasi.

“Kondisi 11 orangutan baik dan normal. Kami masih melakukan observasi,” ujar Tetri.

Hingga pemeriksaan awal dilakukan, belum ditemukan tanda-tanda gejala flu maupun gangguan kesehatan yang berkaitan dengan karhutla. Pemantauan pun terus dilakukan selama satwa berada di kandang evakuasi.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, mengatakan informasi mengenai ancaman kebakaran di sekitar pusat rehabilitasi langsung ditindaklanjuti bersama pihak terkait. Setelah dilakukan koordinasi, evakuasi diputuskan sebagai langkah paling tepat untuk menjaga keselamatan sekaligus kesejahteraan orangutan.

“Evakuasi menjadi pilihan paling tepat demi keselamatan satwa,” kata Ari.

Menurut Ari, kondisi 11 orangutan berdasarkan hasil pemeriksaan berada dalam keadaan sehat dan aman. Meskipun terdapat keterbatasan sarana di lokasi evakuasi, pemantauan tetap dilakukan secara ketat oleh tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim.

Ancaman karhutla di kawasan tersebut sebelumnya telah diantisipasi melalui kesiapsiagaan yang dilakukan oleh Yayasan Jejak Pulang bersama sejumlah pihak. Langkah tersebut menjadi penting mengingat pusat rehabilitasi berada di kawasan hutan yang rentan terdampak kebakaran, terutama ketika kondisi cuaca kering dan angin mempercepat penyebaran api.

KHDTK Samboja memiliki luas sekitar 3.500 hektare, sedangkan area Sekolah Hutan yang digunakan untuk proses rehabilitasi orangutan mencapai sekitar 130 hektare. Kondisi ini membuat sistem pemantauan, jalur evakuasi, kendaraan pendukung, hingga kesiapan personel menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi darurat.

Pascaevakuasi, perhatian tim tidak hanya tertuju pada kondisi kesehatan fisik satwa, tetapi juga kesejahteraan dan keberlanjutan proses rehabilitasi. Perubahan lingkungan dari kawasan hutan yang luas ke kandang dengan ruang gerak terbatas berpotensi membuat orangutan mengalami kebosanan dan kehilangan sebagian stimulasi alami.

Untuk mengatasinya, tim tetap memberikan enrichment atau pengayaan lingkungan yang bertujuan menjaga stimulasi fisik dan kognitif orangutan. Sejumlah fasilitas di dalam kandang juga dibuat menyerupai kondisi hutan, sehingga kebutuhan perilaku alami satwa tetap dapat dipenuhi selama proses pemulihan berlangsung.

Keberhasilan mengevakuasi seluruh 11 orangutan menunjukkan pentingnya respons cepat dan koordinasi lintas lembaga ketika karhutla mengancam kawasan rehabilitasi satwa. Saat ini, keselamatan dan kondisi kesehatan orangutan menjadi prioritas sembari menunggu situasi kawasan kembali aman.

 

Pewarta : Fairuzzabady
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kemiskinan Pedesaan NTT Capai 21,64 Persen, Forum Pemuda Desak Penguatan Ekonomi Desa

7 Oktober 2026 - 17:00 WITA

AMSI Kaltim dan DPRD Balikpapan Siapkan Forum Refleksi Dua Tahun Kinerja Legislatif

7 Oktober 2026 - 12:00 WITA

DPRD Samarinda Dorong Pendataan Disabilitas Lebih Akurat Agar Bantuan Tepat Sasaran

6 Oktober 2026 - 14:00 WITA

Harminsyah Dorong Penguatan Peran Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit di Samarinda

6 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Sekitar 75 Rumah Terdampak Kebakaran di Tenggarong, Keterbatasan Air Jadi Kendala

5 Oktober 2026 - 20:00 WITA

Program KB Gratis Sepi Peminat di Samarinda, DPRD Soroti Lemahnya Sosialisasi

5 Oktober 2026 - 15:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH