Menu

Mode Gelap
Hasil Usaha Koperasi Senyiur Indah Dialokasikan untuk Bangun 42 Rumah Karyawan Plasma Asap Kembali Terpantau, Otorita IKN Intensifkan Pemantauan Karhutla MBU CUP II 2026 Resmi Bergulir, Camat dan DPRD Kukar Dukung Pembinaan Talenta Lokal MBU CUP II 2026 Bergulir, 22 Tim Adu Kekuatan dan Jadi Ajang Pembinaan Talenta Muara Badak Tiga Hari Dicari, Karyawan PT EAS Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Belayan

BERITA DAERAH · 14 Jun 2026 13:00 WITA ·

Tebing Lonceng, Balkon Samarinda yang Menyimpan Harapan Warga Seberang


 Senja menyelimuti Kota Samarinda yang terlihat dari Tebing Lonceng di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Cahaya lampu kota yang memantul di Sungai Mahakam menghadirkan panorama yang menjadi salah satu daya tarik wisata Samarinda Seberang. Foto: Istimewa. Perbesar

Senja menyelimuti Kota Samarinda yang terlihat dari Tebing Lonceng di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Cahaya lampu kota yang memantul di Sungai Mahakam menghadirkan panorama yang menjadi salah satu daya tarik wisata Samarinda Seberang. Foto: Istimewa.

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Saat senja mulai turun, cahaya Kota Samarinda perlahan menyala di balik aliran Sungai Mahakam. Dari puncak Tebing Lonceng di kawasan Gunung RCTI, Samarinda Seberang, hamparan kota terlihat begitu luas. Sungai, jembatan, permukiman, hingga hutan berpadu menjadi panorama yang memikat siapa pun yang datang.

Namun, bagi warga setempat, Tebing Lonceng bukan sekadar tempat menikmati pemandangan. Di balik keindahannya, tersimpan harapan agar kawasan Samarinda Seberang mendapat perhatian pembangunan yang lebih besar dari pemerintah.

Harapan itu disampaikan Pemandu Wisata Samarinda Seberang yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rais, saat ditemui di kawasan Tebing Lonceng, Sabtu (13/6/2026) malam.

Menurut Rusdi, lokasi yang berada di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut tersebut menawarkan panorama hampir 360 derajat. Dari sisi selatan terlihat muara Sungai Mahakam, di utara membentang pusat Kota Samarinda, sementara sisi timur memperlihatkan kawasan Sungai Kapih dan Jembatan Mahkota II. Di sebelah barat, hamparan hutan dan permukiman warga menjadi penutup panorama yang menenangkan.

“Ini salah satu view terbaik di wilayah seberang,” ujarnya.

Destinasi yang berada di Kelurahan Mangkupalas itu mulai dirintis sebagai objek wisata sejak 2016. Awalnya hanya menjadi tempat warga berolahraga dan menikmati alam, tetapi kini telah berkembang dengan berbagai fasilitas seperti musala, toilet, kafetaria, warung makan, spot foto, hingga vila.

“Fasilitas terus bertambah sehingga pengunjung semakin nyaman,” katanya.

Berkembangnya Tebing Lonceng juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Warga membuka usaha kuliner, mengelola parkir, menjadi pramusaji, petugas kebersihan, hingga menyediakan penginapan. Produk UMKM lokal pun ikut dipasarkan kepada para pengunjung.

Namun, Rusdi mengakui pengembangan kawasan ini masih menghadapi tantangan. Selain keterbatasan dukungan fasilitas, kawasan tersebut juga memiliki potensi longsor sehingga memerlukan perhatian serius dalam aspek mitigasi bencana.

“Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Menurutnya, promosi wisata Samarinda Seberang juga masih belum maksimal. Padahal, Tebing Lonceng dapat diintegrasikan dengan berbagai destinasi lain seperti Kampung Ketupat, Rumah Tua, Masjid Tua, Kampung Tenun, hingga Kampung Toraja menjadi satu paket wisata yang menarik.

Ia bahkan mengusulkan adanya transportasi wisata yang menghubungkan lokasi-lokasi tersebut sehingga wisatawan dapat menikmati kekayaan budaya dan alam Samarinda Seberang dalam satu perjalanan.

Jejak Sejarah Gunung Lonceng

Di balik pesona alamnya, Tebing Lonceng menyimpan kisah sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat. Kawasan ini pernah dikenal sebagai Gunung Butun pada era 1970-an, kemudian berubah menjadi Gunung Lampu setelah berdirinya pemancar TVRI, dan populer sebagai Gunung RCTI sejak awal 1990-an.

Meski demikian, masyarakat tetap mengenalnya sebagai Gunung Lonceng. Menurut cerita yang berkembang sejak masa Kesultanan Kutai, sebuah lonceng ditempatkan di kawasan tersebut sebagai alat peringatan untuk mengawasi kapal-kapal asing maupun ancaman perompak yang memasuki Sungai Mahakam.

“Ketika ada kapal yang mencurigakan, lonceng dibunyikan sebagai tanda bahaya,” jelas Rusdi.

Baginya, sejarah itu menjadi bagian dari identitas kawasan yang layak dikenalkan kepada wisatawan.

Di akhir perbincangan, Rusdi berharap Tebing Lonceng dapat menjadi simbol pemerataan pembangunan di Samarinda. Ia menilai Samarinda Seberang, Loa Janan Ilir, dan Palaran memiliki potensi wisata alam dan budaya yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat jika didukung secara serius.

“Harapan kami sederhana, pemerintah hadir melalui pembangunan fasilitas, promosi wisata, dan dukungan kepada masyarakat yang selama ini mengembangkan potensi daerahnya secara mandiri,” pungkasnya.

 

Pewarta : Yana Ashari
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 62 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Hasil Usaha Koperasi Senyiur Indah Dialokasikan untuk Bangun 42 Rumah Karyawan Plasma

11 September 2026 - 12:00 WITA

Tiga Hari Dicari, Karyawan PT EAS Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Belayan

6 September 2026 - 13:00 WITA

Karhutla Merambat ke KHDTK Samboja, 11 Orangutan Berhasil Diselamatkan

4 September 2026 - 18:00 WITA

Hendak Seberangi Sungai Belayan, Karyawan PT EAS Tenggelam di Tabang

4 September 2026 - 17:00 WITA

Cegah Karhutla, Polsek KP Samarinda Sosialisasikan Larangan Bakar Lahan di Kawasan Pelabuhan

3 September 2026 - 14:00 WITA

Panen 8 Kuintal Jagung, Polsek Palaran Perkuat Dukungan Ketahanan Pangan

3 September 2026 - 13:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH