Menu ✖

Mode Gelap
Sekitar 75 Rumah Terdampak Kebakaran di Tenggarong, Keterbatasan Air Jadi Kendala Delegasi REAAA Apresiasi Pembangunan Nusantara, Kagumi Konsep Kota Berbasis Lingkungan PHI Borong Penghargaan CSR & PDB Award 2026, Local Hero Kukar Raih Predikat Excellent Lahan 2 Hektare Terbakar di Pulau Atas, Polisi Amankan Pria 52 Tahun Penataan Tahura Bukit Soeharto, Pemerintah Sepakati Delapan Langkah

BERITA DAERAH · 29 Jun 2026 13:00 WITA ·

DPRD Samarinda Soroti Dampak Kenaikan BBM, Iswandi: Daya Beli Kelas Menengah Mulai Tertekan


 Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menyampaikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai berdampak pada daya beli masyarakat. Menurutnya, tekanan ekonomi kini tidak hanya dirasakan kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai membebani masyarakat kelas menengah. Foto: Fathur Rabbany. Perbesar

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menyampaikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai berdampak pada daya beli masyarakat. Menurutnya, tekanan ekonomi kini tidak hanya dirasakan kelompok berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai membebani masyarakat kelas menengah. Foto: Fathur Rabbany.

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menilai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Menurutnya, lonjakan harga BBM tidak hanya membebani masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai menekan daya beli kelompok ekonomi menengah yang selama ini menjadi penopang aktivitas konsumsi.

Pernyataan tersebut disampaikan Iswandi usai memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran PT BPR Bank Samarinda di DPRD Kota Samarinda, Senin (29/6/2026). Ia menilai perubahan perilaku masyarakat dalam membeli BBM menjadi salah satu indikator adanya tekanan terhadap kondisi ekonomi.

“Sekarang masyarakat lebih memilih BBM bersubsidi karena selisih harganya semakin jauh,” ujar Iswandi.

Menurutnya, antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang melayani penjualan Pertalite menunjukkan semakin banyak masyarakat yang beralih dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika selisih harga Pertalite dan Pertamax masih relatif kecil.

Ia mengatakan, semakin lebarnya selisih harga membuat masyarakat berupaya menekan pengeluaran, termasuk dalam kebutuhan transportasi sehari-hari. Fenomena tersebut, lanjutnya, menjadi gambaran bahwa tekanan ekonomi kini mulai dirasakan oleh kelompok masyarakat yang sebelumnya masih mampu menggunakan BBM nonsubsidi.

“Yang mulai terdampak bukan hanya masyarakat bawah, tetapi juga kelas menengah,” katanya.

Iswandi menjelaskan, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor usaha. Bahan bakar merupakan salah satu komponen utama dalam aktivitas industri, perdagangan, maupun jasa sehingga setiap kenaikan harga akan memengaruhi struktur biaya secara keseluruhan.

Menurutnya, dalam skala makro, biaya energi memiliki porsi yang cukup besar terhadap biaya produksi. Ketika harga BBM meningkat, pelaku usaha akan menyesuaikan harga jual produk untuk menutup kenaikan biaya operasional.

“Kalau biaya produksi naik, harga barang juga pasti ikut naik,” jelasnya.

Selain biaya produksi, Iswandi menyoroti meningkatnya ongkos distribusi barang akibat kenaikan harga BBM. Biaya transportasi yang lebih tinggi akan berdampak pada harga barang di tingkat konsumen sehingga masyarakat harus mengeluarkan pengeluaran yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu inflasi apabila tidak diimbangi dengan langkah pengendalian harga dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau daya beli turun, perputaran ekonomi juga akan melambat,” tegas Iswandi.

Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat terus melakukan berbagai langkah antisipatif agar dampak kenaikan harga BBM tidak semakin membebani masyarakat. Menurutnya, pengendalian inflasi, stabilisasi harga pangan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan dan masyarakat kelas menengah harus menjadi perhatian bersama agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah meningkatnya biaya hidup.

 

ADV DPRD Kota Samarinda
Pewarta : Fathur Rabbany
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sekitar 75 Rumah Terdampak Kebakaran di Tenggarong, Keterbatasan Air Jadi Kendala

5 Oktober 2026 - 20:00 WITA

Kebakaran Eks HGU PTPN 13 Marangkayu, Api Diperkirakan Melahap 150 Hektare

1 Oktober 2026 - 14:00 WITA

PKS Dinsos dan Pengadilan Agama Perkuat Pendampingan Perwalian Anak

1 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Satpol PP Kukar Tertibkan 23 Pelajar Yang Nongkrong Saat Jam Sekolah

28 September 2026 - 16:00 WITA

Viral Direkam Dari Kabin Excavator, Orangutan Kurus Jalani Rehabilitasi Di Berau

28 September 2026 - 15:00 WITA

Beseprah Erau 2026, Tradisi Jamuan Rakyat yang Satukan Masyarakat Kutai

24 September 2026 - 13:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH