Menu

Mode Gelap
Enviwalk Meriahkan Hari Lingkungan Hidup di IKN, Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Rendah Emisi KAHMI-FORHATI Kukar Siap Dilantik, Hadirkan Ketua Komisi II DPR RI di Tenggarong BPS Samarinda Pastikan Sensus Ekonomi 2026 Berjalan Lancar, Data Jadi Dasar Kebijakan Baru Gotong Royong Sambut Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, Ketua Adat: Warisan Leluhur Harus Tetap Lestari SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1448 HIJRIAH

BERITA DAERAH · 15 Jun 2026 21:00 WITA ·

Forum Keraitan Dorong Model Baru Konservasi Orangutan Kaltim Berbasis Kolaborasi Lintas Sektor


 Seekor orangutan di area pertambangan. Upaya penyelamatan orangutan di Kalimantan Timur dinilai perlu pengelolaan habitat secara menyeluruh untuk menekan konflik manusia dan satwa sejak dini. Foto: Dok. Conservation Action Network (CAN). Perbesar

Seekor orangutan di area pertambangan. Upaya penyelamatan orangutan di Kalimantan Timur dinilai perlu pengelolaan habitat secara menyeluruh untuk menekan konflik manusia dan satwa sejak dini. Foto: Dok. Conservation Action Network (CAN).

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Upaya penyelamatan orangutan di Kalimantan Timur kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan evakuasi ketika satwa masuk ke permukiman atau kawasan industri. Diperlukan pengelolaan habitat secara menyeluruh agar konflik antara manusia dan orangutan dapat dicegah sejak awal.

Hal itu menjadi pokok pembahasan dalam Konsultasi Publik Usulan Peta Indikatif Areal Preservasi Habitat Orangutan Lanskap Keraitan di Samarinda, Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang melibatkan Kementerian Kehutanan, BKSDA Kaltim, mitra konservasi, dan perusahaan di Kutai Timur itu menjadi langkah awal pembentukan Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan.

Forum ini dirancang sebagai model konservasi berbasis lanskap yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, organisasi konservasi, hingga sektor swasta dalam satu sistem pengelolaan habitat.

Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menilai pendekatan konservasi selama ini perlu diubah karena masih bersifat reaktif.

“Sudah saatnya berbasis lanskap,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan, sekitar 76 persen populasi orangutan hidup di luar kawasan konservasi resmi, sementara sisanya berada di area perlindungan. Kondisi ini membuat sebagian besar habitat justru berada di wilayah yang bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia.

Data BKSDA Kaltim mencatat peningkatan evakuasi orangutan, yakni 31 individu pada 2024 dan meningkat menjadi 37 individu pada awal 2025 sebelum terus bertambah hingga akhir tahun.

Menurut Paulinus, fragmentasi habitat menjadi penyebab utama konflik. Ketika ruang jelajah dan sumber pakan terputus, orangutan terpaksa keluar hutan dan memasuki area aktivitas manusia.

“Bukan berubah perilaku, tapi kehilangan ruang hidup,” katanya.

Karena itu, konsep Areal Preservasi Lanskap Keraitan diusulkan sebagai solusi. Skema ini tidak mengubah status hukum lahan, tetapi menghubungkan kantong-kantong habitat dalam satu koridor ekologis yang dikelola bersama.

Forum tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi Universitas Mulawarman, Dr. Yaya Rayadin, yang dipercaya sebagai ketua forum karena pengalaman penelitiannya di kawasan tersebut.

Lanskap Keraitan sendiri memiliki luas sekitar 560 ribu hektare di Kutai Timur dan menjadi salah satu wilayah dengan tingkat konflik manusia-orangutan tertinggi di Kalimantan Timur.

Paulinus menegaskan, tanpa kolaborasi, masing-masing sektor akan bekerja sendiri-sendiri sehingga habitat semakin terfragmentasi.

“Kalau jalan sendiri, habitatnya akan terus terputus,” tegasnya.

Melalui forum ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan berharap konservasi dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan. Model ini diharapkan menjadi contoh baru pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia.

 

Pewarta & Editor: Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

KAHMI-FORHATI Kukar Siap Dilantik, Hadirkan Ketua Komisi II DPR RI di Tenggarong

16 Juni 2026 - 16:00 WITA

BPS Samarinda Pastikan Sensus Ekonomi 2026 Berjalan Lancar, Data Jadi Dasar Kebijakan Baru

16 Juni 2026 - 15:00 WITA

Gotong Royong Sambut Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, Ketua Adat: Warisan Leluhur Harus Tetap Lestari

16 Juni 2026 - 12:00 WITA

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1448 HIJRIAH

16 Juni 2026 - 11:00 WITA

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1448 HIJRIAH

16 Juni 2026 - 10:00 WITA

KPC Dukung Forum Keraitan, Dorong Kolaborasi Lindungi Habitat Orangutan Kaltim

15 Juni 2026 - 23:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH