Menu

Mode Gelap
28 Delegasi ICAPPS 2026 Tinjau Nusantara, Bahas Masa Depan Kota Berkelanjutan Curi Ponsel di Jalan, Pria di Samarinda Ditangkap Polisi Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal Karhutla dan Kekeringan di Kukar, Pemkab Siapkan Rekayasa Cuaca Untuk Selamatkan Pertanian Suharso Monoarfa Tinjau IKN, Dorong Konsistensi Pembangunan dan Keberanian Investor Lokal

BERITA DAERAH · 10 Jun 2026 09:00 WITA ·

Translokasi Badak Pari Jadi Harapan Terakhir Selamatkan Badak Kalimantan


 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama berbagai pemangku kepentingan menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi di Balikpapan, Senin (8/6/2026), guna mematangkan rencana translokasi Badak Pari sebagai langkah strategis untuk mencegah kepunahan Badak Kalimantan. Perbesar

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama berbagai pemangku kepentingan menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi di Balikpapan, Senin (8/6/2026), guna mematangkan rencana translokasi Badak Pari sebagai langkah strategis untuk mencegah kepunahan Badak Kalimantan.

KUTAIPANRITA.ID, BALIKPAPAN – Upaya penyelamatan Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) memasuki tahap yang sangat krusial. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama berbagai pemangku kepentingan menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi di Balikpapan, Senin (8/6/2026), untuk mematangkan rencana translokasi Badak Pari sebagai langkah terakhir mencegah kepunahan subspesies tersebut.

Saat ini, Badak Kalimantan diketahui hanya menyisakan dua individu betina, yakni Pari Mahulu yang masih berada di habitat alaminya di Mahakam Ulu dan Pahu yang hidup di Suaka Badak Kelian di bawah pengawasan intensif. Kondisi itu membuat peluang berkembang biak di alam hampir tidak ada.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengatakan seluruh pihak yang terlibat memiliki kesamaan pandangan bahwa penyelamatan Badak Pari harus segera dilakukan dengan perencanaan yang matang.

“Semua pihak memahami bahwa upaya penyelamatan ini harus segera dilakukan. Namun, langkah-langkahnya juga harus didetailkan agar hasilnya benar-benar bermanfaat, baik bagi badaknya maupun bagi kepentingan konservasi secara keseluruhan,” ujarnya.

Translokasi ke Suaka Badak Kelian dinilai menjadi peluang terbaik untuk menyelamatkan materi genetik terakhir Badak Kalimantan. Setelah berada di lingkungan yang lebih terkontrol, Pari Mahulu diharapkan dapat mengikuti program Assisted Reproductive Technology (ART) atau teknologi reproduksi berbantuan, termasuk pengambilan sel telur untuk program bayi tabung dan penyimpanan materi genetik jangka panjang.

Dalam rapat tersebut, BKSDA juga menegaskan bahwa habitat asli Badak Pari di Mahakam Ulu tidak akan ditinggalkan atau dialihfungsikan setelah proses translokasi. Kawasan itu justru diusulkan tetap menjadi area konservasi sebagai lokasi pelepasliaran apabila program pengembangbiakan berhasil.

“Keinginan semua pihak adalah habitat Badak Pari tetap dipertahankan sebagai kawasan konservasi atau areal preservasi. Kami sepakat mengenai hal ini dan akan mengusulkannya kepada pemerintah pusat,” kata Ari.

Ia menepis anggapan bahwa translokasi akan membuka peluang perambahan habitat.

“Habitatnya tidak akan hilang seperti isu yang berhembus. Kami berharap kawasan itu tetap terjaga sehingga ketika penyelamatan berhasil dan populasinya bertambah, sudah ada lokasi untuk pelepasliaran kembali,” tambahnya.

Untuk mendukung operasi tersebut, tim saat ini menyiapkan kandang karantina (boma), paddock eksklosur di Suaka Badak Kelian, serta skenario pemindahan melalui jalur udara menggunakan helikopter dengan spesifikasi khusus guna meminimalkan risiko terhadap satwa.

Operasi penyelamatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian terkait, BKSDA, TNI, Polri, akademisi, organisasi lingkungan, hingga Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi ikhtiar terakhir agar Badak Kalimantan tidak berakhir sebagai catatan sejarah, melainkan tetap lestari di habitatnya untuk generasi mendatang.

 

Pewarta & Editor: Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal

21 Agustus 2026 - 12:00 WITA

Karhutla dan Kekeringan di Kukar, Pemkab Siapkan Rekayasa Cuaca Untuk Selamatkan Pertanian

21 Agustus 2026 - 11:00 WITA

Nelayan Hilang di Perairan Tanjung Aru, Tim SAR Temukan Bangkai Kapal

20 Agustus 2026 - 22:00 WITA

Tanpa APBD, Sekretariat DPRD Samarinda Tetap Semarakkan HUT RI ke-81 dengan Semangat Gotong Royong

20 Agustus 2026 - 21:00 WITA

200 Ribu Pekerja Informal Samarinda Belum Terlindungi BPJS, DPRD Dorong Perluasan Jaminan Sosial

20 Agustus 2026 - 20:00 WITA

12 Pelajar SMP Samarinda Positif Narkoba, DPRD Dorong Deteksi Dini di Sekolah

20 Agustus 2026 - 19:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH