Menu

Mode Gelap
28 Delegasi ICAPPS 2026 Tinjau Nusantara, Bahas Masa Depan Kota Berkelanjutan Curi Ponsel di Jalan, Pria di Samarinda Ditangkap Polisi Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal Karhutla dan Kekeringan di Kukar, Pemkab Siapkan Rekayasa Cuaca Untuk Selamatkan Pertanian Suharso Monoarfa Tinjau IKN, Dorong Konsistensi Pembangunan dan Keberanian Investor Lokal

BERITA DAERAH · 2 Jul 2026 14:00 WITA ·

Kembali ke Rumah Rimba, Bagus, Eboni, dan Ruby Akhiri Perjalanan Panjang Menuju Kebebasan


 Tiga orangutan Kalimantan, Bagus, Eboni, dan Ruby, resmi dilepasliarkan ke habitat alaminya pada 24 Juni 2026. Pelepasliaran oleh BKSDA Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menandai berakhirnya masa rehabilitasi sekaligus awal kehidupan baru ketiganya di alam liar. Foto: COP. Perbesar

Tiga orangutan Kalimantan, Bagus, Eboni, dan Ruby, resmi dilepasliarkan ke habitat alaminya pada 24 Juni 2026. Pelepasliaran oleh BKSDA Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menandai berakhirnya masa rehabilitasi sekaligus awal kehidupan baru ketiganya di alam liar. Foto: COP.

KUTAIPANRITA.ID, KALIMANTAN TIMUR – Hutan kembali menyambut tiga penghuninya. Setelah bertahun-tahun hidup jauh dari habitat asli akibat dipelihara secara ilegal, tiga orangutan Kalimantan bernama Bagus, Eboni, dan Ruby akhirnya dilepasliarkan ke alam bebas pada 24 Juni 2026. Pelepasliaran yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menjadi penutup perjalanan rehabilitasi panjang sekaligus awal kehidupan baru bagi ketiganya.

Direktur Centre for Orangutan Protection (COP), Daniek Hendarto, mengatakan ketiga orangutan memiliki latar belakang penyelamatan yang berbeda, tetapi mengalami persoalan yang sama, yakni kehilangan naluri bertahan hidup karena terlalu lama hidup berdampingan dengan manusia.

“Mereka akhirnya kembali ke hutan setelah dinyatakan siap hidup mandiri,” ujar Daniek, Kamis (2/7/2026).

Bagus menjadi orangutan pertama yang diselamatkan pada September 2020 di Desa Merabu, Kabupaten Berau. Saat itu, tim BKSDA Kalimantan Timur dan COP harus melalui proses negosiasi yang cukup panjang karena pemiliknya menolak menyerahkan satwa yang dipelihara secara ilegal tersebut.

Sementara Eboni dievakuasi dari Desa Long Beliu, Berau, pada April 2022. Orangutan betina itu ditemukan berada di dalam kandang kayu di kawasan ladang karet dan masih menunjukkan sifat agresif ketika proses penyelamatan berlangsung.

Adapun Ruby menjadi individu tertua dalam pelepasliaran kali ini. Selama sekitar tujuh tahun ia dipelihara warga di Desa Sekurau Atas, Kabupaten Kutai Timur, bahkan dirantai pada sebuah balok kayu sebelum berhasil dievakuasi pada awal 2024.

Setelah diselamatkan, ketiganya menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Di sana mereka kembali belajar memanjat pohon, mencari pakan alami, hingga membangun sarang sebagai bekal hidup di alam liar.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran dimulai pada 23 Juni 2026. Bagus diberangkatkan dari Pulau Pra-Pelepasliaran Bawan di Berau melalui perjalanan darat sekitar delapan jam, kemudian dilanjutkan menyusuri sungai selama tiga jam. Sementara Eboni dan Ruby dipindahkan dari Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar dan Lambeng di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kutai Timur, dengan pengawalan tim BKSDA, KPHP Kelinjau, dan tenaga medis COP.

Sehari kemudian, tepat pada 24 Juni 2026, satu per satu pintu kandang transport dibuka di tiga titik pelepasliaran yang berbeda. Tidak membutuhkan waktu lama, ketiganya langsung memanjat pepohonan dan menghilang di balik rimbunnya hutan.

“Respons mereka sangat baik. Begitu dilepas, mereka langsung mengeksplorasi lingkungan barunya,” kata Daniek.

Usai pelepasliaran, tim Post Release Monitoring langsung melakukan pemantauan harian. Selama sekitar tiga bulan, setiap orangutan akan diawasi oleh dua petugas untuk memastikan mereka mampu mencari makan, berpindah pohon, hingga membangun sarang tanpa campur tangan manusia.

Hasil pemantauan awal menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Bagus, Eboni, dan Ruby masih berada di sekitar lokasi pelepasliaran, aktif menjelajah kawasan hutan, serta berhasil membuat sarang sebagai tempat beristirahat pada malam hari.

Bagi BKSDA Kalimantan Timur dan COP, pelepasliaran ini bukan sekadar mengembalikan tiga individu orangutan ke habitatnya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian orangutan Kalimantan yang populasinya terus terancam akibat hilangnya hutan dan praktik pemeliharaan satwa liar secara ilegal. Di balik setiap langkah mereka yang kembali menyentuh dahan-dahan hutan, tersimpan harapan baru bagi keberlangsungan salah satu satwa endemik paling penting di Pulau Kalimantan.

 

Pewarta & Editor: Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal

21 Agustus 2026 - 12:00 WITA

Karhutla dan Kekeringan di Kukar, Pemkab Siapkan Rekayasa Cuaca Untuk Selamatkan Pertanian

21 Agustus 2026 - 11:00 WITA

Nelayan Hilang di Perairan Tanjung Aru, Tim SAR Temukan Bangkai Kapal

20 Agustus 2026 - 22:00 WITA

Tanpa APBD, Sekretariat DPRD Samarinda Tetap Semarakkan HUT RI ke-81 dengan Semangat Gotong Royong

20 Agustus 2026 - 21:00 WITA

200 Ribu Pekerja Informal Samarinda Belum Terlindungi BPJS, DPRD Dorong Perluasan Jaminan Sosial

20 Agustus 2026 - 20:00 WITA

12 Pelajar SMP Samarinda Positif Narkoba, DPRD Dorong Deteksi Dini di Sekolah

20 Agustus 2026 - 19:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH