Menu ✖

Mode Gelap
36 Orang Positif Narkoba di Gunung Bugis Balikpapan, Polisi Arahkan ke Rehabilitasi Kongres XX PDHI Digelar di IKN, Perkuat Sinergi Kesehatan Hewan dan Kedaulatan Pangan Otorita IKN Teken Kerja Sama Investasi Rp3,7 Triliun, Bangun Hunian ASN dan Fasilitas Kota Banjir Sambutan Samarinda Sulit Teratasi, Suparno Dorong Pembangunan Kolam Retensi DPRD Samarinda Kaji Pemekaran Kecamatan Samarinda Utara, Lima Kelurahan Disiapkan

BERITA DAERAH · 14 Jul 2026 18:00 WITA ·

Yayasan Ibadurrahman Gugat Pencabutan NSP, Nilai Prosedur Kemenag Tak Sesuai Administrasi


 Ketua Yayasan Pondok Modern Ibadurrahman, Sadly El Udwany, memberikan keterangan pers di Pondok Modern Ibadurrahman, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Selasa (14/7/2026). Yayasan menilai pencabutan Nomor Statistik Pesantren (NSP) oleh Kementerian Agama melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1307 Tahun 2026 tidak memenuhi prosedur administrasi. Foto: Akmal Hafidz Krisnowo. Perbesar

Ketua Yayasan Pondok Modern Ibadurrahman, Sadly El Udwany, memberikan keterangan pers di Pondok Modern Ibadurrahman, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Selasa (14/7/2026). Yayasan menilai pencabutan Nomor Statistik Pesantren (NSP) oleh Kementerian Agama melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1307 Tahun 2026 tidak memenuhi prosedur administrasi. Foto: Akmal Hafidz Krisnowo.

KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Yayasan Pondok Modern Ibadurrahman menyatakan pencabutan Nomor Statistik Pesantren (NSP) oleh Kementerian Agama (Kemenag) melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1307 Tahun 2026 dinilai tidak memenuhi prosedur administrasi. Sikap tersebut disampaikan Ketua Yayasan Pondok Modern Ibadurrahman, Sadly El Udwany, di Pondok Modern Ibadurrahman, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, Selasa (14/7/2026).

Menurut Sadly, yayasan menghormati proses hukum yang sedang berjalan terhadap pihak yang diduga terlibat dalam perkara pidana. Namun, pihaknya menilai keputusan administratif terhadap lembaga pendidikan tidak seharusnya didasarkan pada dugaan perbuatan individu yang belum berkekuatan hukum tetap.

“Kami mendukung proses hukum, tetapi jangan menyamakan tindakan oknum dengan lembaga,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, yayasan telah memenuhi tahapan yang diminta Kemenag setelah terbitnya rekomendasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Meski demikian, pihaknya menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam pelaksanaannya, mulai dari keterlambatan penyampaian surat rekomendasi hingga tenggat waktu pergantian pimpinan pondok yang dinilai sulit dipenuhi karena surat baru diterima menjelang batas akhir pelaksanaan.

Yayasan juga menyoroti rapat koordinasi di Kantor Kementerian Agama Kutai Kartanegara pada 18 Juni 2026. Dalam undangan, rapat disebut membahas penguatan koordinasi penanganan kasus. Namun, menurut Sadly, pembahasan di lapangan justru mengarah pada komitmen penutupan Pondok Modern Ibadurrahman. Hingga kini, pihak yayasan mengaku belum menerima berita acara hasil rapat tersebut.

Berdasarkan rangkaian proses itu, yayasan menilai pencabutan NSP dilakukan saat proses hukum masih berlangsung dan belum memperoleh putusan berkekuatan hukum tetap. Karena itu, keputusan tersebut dinilai bertentangan dengan asas praduga tak bersalah.

“Proses hukumnya belum inkrah, sehingga menurut kami keputusan ini cacat secara administrasi,” tegasnya.

Selain mempersoalkan prosedur, yayasan menyebut pencabutan NSP berdampak pada terhentinya aktivitas pendidikan, terganggunya proses belajar mengajar, serta menimbulkan keresahan bagi guru, tenaga kependidikan, dan wali santri.

Sadly menambahkan, Pondok Modern Ibadurrahman telah berdiri selama 33 tahun dan berkontribusi mencetak lulusan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, ia berharap persoalan hukum yang melibatkan individu tidak mengorbankan keberlangsungan lembaga pendidikan.

Sebagai langkah lanjutan, yayasan telah mengajukan keberatan administratif atas pencabutan NSP dan menempuh upaya hukum terhadap pihak yang dinilai menyebarkan informasi tanpa dasar. Meski demikian, yayasan menegaskan tetap mendukung aparat penegak hukum menuntaskan perkara sesuai ketentuan yang berlaku, sembari berharap proses hukum terhadap individu dipisahkan dari eksistensi lembaga pendidikan.

 

Pewarta : Akmal Hafidz Krisnowo
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Banjir Sambutan Samarinda Sulit Teratasi, Suparno Dorong Pembangunan Kolam Retensi

13 Oktober 2026 - 16:00 WITA

DPRD Samarinda Kaji Pemekaran Kecamatan Samarinda Utara, Lima Kelurahan Disiapkan

13 Oktober 2026 - 15:00 WITA

DPRD Samarinda Desak Normalisasi Drainase Sebelum Puncak Musim Hujan

13 Oktober 2026 - 14:00 WITA

DPRD Samarinda Dorong Regulasi Penataan UMKM di Ruang Publik, Jaga Kenyamanan Warga

13 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Peduli Korban Kebakaran Muara Muntai, Kejari Kukar Bersama IAD dan PWI Salurkan Bantuan

12 Oktober 2026 - 17:00 WITA

PAD Pajak Hotel Samarinda Turun Rp34 Miliar, Helmi Abdullah Dorong Promosi Wisata dan Pasar Baru

12 Oktober 2026 - 15:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH