Menu

Mode Gelap
Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, OIKN Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di IKN Layar Kaltim Juara Umum Regatta II 2026, Kantongi 5 Emas dan Siap Tatap PON 2028 28 Delegasi ICAPPS 2026 Tinjau Nusantara, Bahas Masa Depan Kota Berkelanjutan Curi Ponsel di Jalan, Pria di Samarinda Ditangkap Polisi Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal

BERITA DAERAH · 4 Des 2025 14:18 WITA ·

Stagnansi Penurunan Stunting di Kaltim, DPRD Minta Pembinaan Kabupaten/Kota Diperkuat


 Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan Perbesar

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA — DPRD Kalimantan Timur menyoroti lambannya penurunan prevalensi stunting di daerah. Berdasarkan data resmi, angka stunting yang pada 2021 berada di level 22,8 persen hanya turun menjadi 22,2 persen pada 2025. Penurunan 0,6 persen dalam empat tahun dianggap jauh dari target nasional yang ditetapkan pemerintah pusat.

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, mengatakan lambatnya progres ini harus menjadi perhatian serius pemerintah provinsi, terutama dalam membina kabupaten/kota yang menjadi pelaksana utama program penanganan.

“Saat ini masih ada beberapa daerah yang angka stuntingnya masih tinggi, itu yang jadi perhatian kami,” ujarnya.

Daerah dengan Angka Tertinggi Masih Sama

Agusriansyah menyebut tiga daerah yang dinilai membutuhkan pembinaan lebih signifikan, yaitu Kutai Timur, Penajam Paser Utara, dan Kutai Barat.

Menurutnya, ketiga wilayah tersebut menghadapi tantangan yang cukup berat, meski pemerintah daerah masing-masing sudah menerapkan program intervensi gizi dan layanan kesehatan ibu-anak.

“Kita ingin upaya pengendalian diperkuat karena ini masuk prioritas nasional dan menjadi bagian dari evaluasi kinerja daerah,” tegasnya.

Agusriansyah menjelaskan, Pemprov Kaltim telah mempertahankan alokasi anggaran untuk penanganan stunting, namun keberhasilan di lapangan sepenuhnya bergantung pada eksekusi kabupaten dan kota.

Ia memperingatkan bahwa penilaian kinerja stunting juga memengaruhi besaran dana transfer pusat.

“Kinerja penanganan stunting turut mempengaruhi penilaian pemerintah pusat, termasuk dalam hal pemberian dan pemangkasan dana transfer,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong kabupaten/kota untuk memperluas intervensi pada keluarga berisiko, daerah pedesaan, serta kawasan yang sulit menjangkau layanan kesehatan.

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Perbaiki Klotok di Tepi Mahakam, Motoris 58 Tahun Ditemukan Meninggal

21 Agustus 2026 - 12:00 WITA

Karhutla dan Kekeringan di Kukar, Pemkab Siapkan Rekayasa Cuaca Untuk Selamatkan Pertanian

21 Agustus 2026 - 11:00 WITA

Nelayan Hilang di Perairan Tanjung Aru, Tim SAR Temukan Bangkai Kapal

20 Agustus 2026 - 22:00 WITA

Tanpa APBD, Sekretariat DPRD Samarinda Tetap Semarakkan HUT RI ke-81 dengan Semangat Gotong Royong

20 Agustus 2026 - 21:00 WITA

200 Ribu Pekerja Informal Samarinda Belum Terlindungi BPJS, DPRD Dorong Perluasan Jaminan Sosial

20 Agustus 2026 - 20:00 WITA

12 Pelajar SMP Samarinda Positif Narkoba, DPRD Dorong Deteksi Dini di Sekolah

20 Agustus 2026 - 19:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH