Menu ✖

Mode Gelap
Perkuat Sinergi dengan Pemda, PHSS Gelar Pertandingan Persahabatan di Samarinda Piala Soeratin 2026 Tuntas di IKN, ASIOP hingga Waamanat Bhintuka FC Raih Gelar Juara Refleksi Dua Tahun DPRD Balikpapan, AMSI Soroti Fungsi Legislasi, Anggaran, dan Pengawasan Mahakam Investment Forum 2026 Di IKN, Investor Dan Delegasi Internasional Jajaki Peluang Kerja Sama Iswandi Soroti Rencana Gaji ASN Lewat Koperasi Merah Putih, Khawatir Ganggu Likuiditas Bank Daerah

BERITA DAERAH · 13 Feb 2026 21:00 WITA ·

Di Tengah Era Viral, Pers Diminta Tetap Independen dan Jaga Kepercayaan Publik


 Suasana diskusi publik yang digelar komunitas Jurnalis Milenial di Samarinda dalam rangka Hari Pers Nasional, mengangkat tema “Era Viral dan Krisis Kepercayaan: Pers vs Media Sosial, siapa paling layak dipercaya publik?”. Foto: Herdiansyah Perbesar

Suasana diskusi publik yang digelar komunitas Jurnalis Milenial di Samarinda dalam rangka Hari Pers Nasional, mengangkat tema “Era Viral dan Krisis Kepercayaan: Pers vs Media Sosial, siapa paling layak dipercaya publik?”. Foto: Herdiansyah

KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Ketua PWI Kaltim, Abdurrahman Amin, menegaskan pentingnya independensi jurnalis di tengah derasnya arus informasi dan maraknya konten viral di media sosial.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi publik yang digelar komunitas Jurnalis Milenial di Samarinda dalam rangka Hari Pers Nasional, dengan tema “Era Viral dan Krisis Kepercayaan: Pers vs Media Sosial, siapa paling layak dipercaya publik?”

Menurut Abdurrahman, wartawan harus tetap profesional dan tidak berpihak pada kepentingan tertentu selain kepentingan masyarakat. Ia menekankan, kebebasan pers bukan tanpa batas, melainkan disertai tanggung jawab moral dan kode etik.

“Kebebasan pers harus dijalankan secara bertanggung jawab. Independensi menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris SMSI Kaltim, Yakub Anani, menilai pers dan media sosial tidak harus dipertentangkan. Media sosial unggul dalam kecepatan penyebaran informasi, namun tidak selalu melalui proses verifikasi seperti jurnalistik.

“Viral belum tentu valid, valid belum tentu viral,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Bidang SKDI Diskominfo Samarinda, Dhanny Rakhmadi, menilai ruang digital masih minim instrumen pengaturan dan sangat dipengaruhi algoritma serta perilaku pengguna. Ia mengingatkan, fenomena buzzer dan arus opini di media sosial berpotensi memengaruhi situasi politik maupun keamanan.

Diskusi ini menjadi refleksi bahwa di tengah era viral dan krisis kepercayaan, profesionalisme, verifikasi, dan etika jurnalistik tetap menjadi kunci menjaga kualitas informasi serta kepercayaan publik.

 

Pewarta : Herdiansyah
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 189 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Perkuat Sinergi dengan Pemda, PHSS Gelar Pertandingan Persahabatan di Samarinda

26 Oktober 2026 - 15:00 WITA

Refleksi Dua Tahun DPRD Balikpapan, AMSI Soroti Fungsi Legislasi, Anggaran, dan Pengawasan

24 Oktober 2026 - 15:00 WITA

Iswandi Soroti Rencana Gaji ASN Lewat Koperasi Merah Putih, Khawatir Ganggu Likuiditas Bank Daerah

23 Oktober 2026 - 17:00 WITA

Pemadaman Listrik Berlarut, Abdul Rohim Desak Audit PLN Dan Usulkan Kompensasi 50 Persen Tagihan

22 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Samarinda Mantapkan Langkah Lepas Dari Ketergantungan Tambang, Empat Sektor Jadi Andalan Ekonomi

19 Oktober 2026 - 14:00 WITA

Deni Hakim Anwar Desak Evaluasi Perumahan dan Pembenahan Drainase untuk Atasi Banjir Samarinda

19 Oktober 2026 - 13:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH