KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA — Upaya penurunan stunting di Kalimantan Timur dinilai membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang lebih kuat. DPRD Kaltim menyampaikan bahwa penyelesaian masalah tersebut tidak dapat bertumpu hanya pada intervensi kesehatan, tetapi harus didukung aspek pendidikan, sosial, dan pemberdayaan keluarga.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menekankan perlunya strategi terpadu yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan.
“Keberhasilan menekan angka stunting hanya dapat dicapai melalui kerja bersama yang terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Agusriansyah mengatakan bahwa stagnasi penurunan prevalensi di Kaltim perlu dijadikan “alarm” bagi pemerintah daerah. Selain berdampak pada kesehatan anak, indikator ini juga menentukan bagaimana pemerintah pusat menilai efektivitas pembangunan daerah.
Ia menegaskan bahwa kabupaten/kota harus memastikan program berjalan tepat sasaran, terutama pada keluarga miskin dan wilayah yang masih mengalami hambatan akses layanan kesehatan ibu dan anak.
DPRD Kaltim mendorong agar program intervensi gizi spesifik diperluas, termasuk edukasi pola asuh, pendampingan ibu hamil, serta pemeriksaan berkala bagi balita. Sinergi antara dinas kesehatan, dinas pendidikan, serta instansi sosial juga dianggap sebagai kunci keberhasilan.
“Daerah harus lebih aktif dan konsisten dalam memperluas intervensi, bukan hanya menjalankan program, tapi memastikan langkahnya efektif,” tegasnya.
ADV DPRD Kaltim Pewarta : Axel Editor : Fairuzzabady @2025












