KUTAIPANRITA.ID, BALI — Indonesia mendorong organisasi internasional untuk membantu membangun standar global dalam pengumpulan dan distribusi royalti musik yang transparan dan akuntabel. Hal ini disampaikan Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, saat membuka ASEAN CMO Forum 2026 di Bali, Jumat (10/4/2026).
“Pemerintah Indonesia tidak akan terlibat langsung dalam pengelolaan royalti, tetapi sebagai regulator yang mengawasi tata kelolanya,” ujar Supratman.
Ia menambahkan, Indonesia yang tengah merevisi Undang-Undang Hak Cipta membutuhkan masukan dari organisasi global seperti CISAC dan IFPI. “Kami berharap forum ini mendorong kerja sama dan pertukaran informasi antarnegara ASEAN,” katanya.
Forum yang diinisiasi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan LMKN ini menjadi pertemuan perdana Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) se-ASEAN, sebagai upaya memperbaiki tata kelola royalti musik digital agar lebih adil.
Supratman juga menyoroti pesatnya perkembangan platform digital yang mengubah industri musik, namun belum diimbangi sistem distribusi royalti yang akurat. “Tingginya konsumsi musik tidak selalu sejalan dengan distribusi royalti yang tepat,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan ini bersifat lintas negara sehingga membutuhkan solusi bersama. “Kita harus bergerak sebagai satu kawasan,” lanjutnya.
Sebagai langkah konkret, Indonesia mendorong penyusunan standar global yang akan dibahas di World Intellectual Property Organization, guna melindungi kreator dari praktik black box royalty dan memastikan pembagian yang lebih adil.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menyebut tantangan utama saat ini adalah ketimpangan teknologi dan sistem data. “Eksploitasi karya musik terjadi secara real-time lintas negara, tetapi belum diikuti distribusi royalti yang akurat,” ujarnya.
Melalui forum ini, Indonesia mendorong harmonisasi standar, penguatan posisi lembaga kolektif, serta integrasi sistem royalti digital di kawasan ASEAN. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para kreator di tingkat regional maupun global.
Sumber: Asosiasi Media Siber Indonesia @2026












