KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan masih menjadi persoalan yang dihadapi SDN 005 Loa Buah, Samarinda. Sekolah yang kini menampung sekitar 370 peserta didik tersebut hanya memiliki enam ruang kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa menerapkan sistem dua sif.
Kondisi itu masih berlangsung hingga Rabu (12/8/2026). Keterbatasan ruang kelas membuat pihak sekolah harus membagi jadwal pembelajaran menjadi sif pagi dan siang agar seluruh peserta didik tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kepala SDN 005 Loa Buah, Norman, mengatakan pihak sekolah membutuhkan sedikitnya enam ruang kelas tambahan. Penambahan tersebut dinilai penting agar seluruh rombongan belajar dapat mengikuti pembelajaran dalam satu sif.
“Kami membutuhkan enam ruang kelas tambahan,” ujarnya.
Menurut Norman, persoalan keterbatasan ruang kelas tidak hanya berdampak terhadap pembagian jadwal belajar. Kondisi tersebut juga memengaruhi pengelolaan berbagai kegiatan sekolah karena penggunaan ruangan harus disesuaikan dengan jumlah rombongan belajar yang tersedia.
Saat ini, pembelajaran sif siang diberlakukan bagi siswa kelas 2, kelas 3, dan kelas 4. Kebijakan tersebut menjadi solusi sementara untuk mengatasi ketidakseimbangan antara jumlah ruang kelas dengan kebutuhan pembelajaran.
Selain ruang kelas, SDN 005 Loa Buah juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendukung. Salah satunya belum tersedianya ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang dibangun secara khusus.
Untuk sementara, pihak sekolah memanfaatkan bangunan bekas rumah guru yang sudah tidak digunakan sebagai ruang UKS. Ruangan tersebut disesuaikan agar tetap dapat digunakan untuk memberikan penanganan awal kepada siswa yang membutuhkan layanan kesehatan.
“Untuk sementara, UKS kami manfaatkan dari bangunan lama,” beber Norman.
Kondisi pagar sekolah juga menjadi perhatian. Fasilitas tersebut dinilai perlu diperbaiki atau ditingkatkan untuk memberikan keamanan sekaligus memperjelas batas kawasan sekolah.
Berbagai kebutuhan sarana dan prasarana tersebut telah menjadi bagian dari usulan sekolah kepada pemerintah daerah. Penambahan fasilitas diharapkan tidak hanya menghapus penerapan sistem dua sif, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan mendukung proses pendidikan.
Dari sisi tenaga pendidik, SDN 005 Loa Buah saat ini memiliki sekitar 32 guru. Dua di antaranya mendapat penugasan untuk membantu proses pembelajaran di SD Filial 005 yang berada di Desa Loa Kumbar, Loa Buah Sungai Kunjung.
Sementara itu, sekolah induk masih belum memiliki tenaga pengajar khusus mata pelajaran Bahasa Inggris. Untuk sementara, pembelajaran Bahasa Inggris ditangani wali kelas sesuai dengan pengaturan yang dilakukan pihak sekolah.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SDN 005 Loa Buah menerima sekitar 60 peserta didik baru. Pihak sekolah berharap jumlah penerimaan siswa baru dapat meningkat menjadi sekitar 70 orang pada tahun berikutnya apabila dukungan fasilitas pendidikan semakin memadai.
Persoalan pendidikan juga terdapat di SD Filial 005 Loa Kumbar. Sekolah yang berada di kawasan tersebut saat ini hanya memiliki tujuh peserta didik, terdiri dari empat siswa kelas 6 dan tiga siswa kelas 2.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan tenaga pendidik harus disesuaikan dengan jumlah siswa dan kebutuhan pembelajaran di sekolah filial.
“Jumlah siswa memang masih sangat terbatas,” ungkap Norman.
Norman menjelaskan, dua guru dari SDN 005 Loa Buah saat ini turut membantu mengajar di sekolah filial tersebut. Penugasan dilakukan agar proses pembelajaran bagi siswa di Loa Kumbar tetap berjalan.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahroni Passie, menilai perhatian pemerintah tidak boleh hanya diarahkan kepada sekolah induk. Menurutnya, kondisi SD Filial 005 Loa Kumbar juga perlu menjadi bagian dari evaluasi dan kebijakan pendidikan pemerintah daerah.
Novan menyebut, meski hanya terdapat tujuh siswa, mereka tetap memiliki hak memperoleh layanan pendidikan yang layak. Karena itu, pemerintah perlu mencari pola pengelolaan yang sesuai dengan kondisi wilayah dan jumlah peserta didik.
“Tujuh anak itu tetap harus mendapatkan hak pendidikan,” tegasnya.
Menurut Novan, keberadaan SD Filial 005 Loa Kumbar pada dasarnya ditujukan untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Jumlah penduduk yang relatif sedikit menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jumlah peserta didik di sekolah tersebut masih terbatas.
Kawasan Loa Kumbar diketahui dihuni sekitar 280 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sekitar 120 KK. Kondisi demografi tersebut turut memengaruhi jumlah anak usia sekolah yang tersedia di wilayah tersebut.
DPRD Samarinda pun mendorong pemerintah daerah untuk melihat persoalan pendidikan di SDN 005 Loa Buah dan SD Filial 005 Loa Kumbar secara menyeluruh. Tidak hanya pembangunan fisik, tetapi juga pemerataan tenaga pendidik dan penguatan fasilitas pendukung.
Penambahan enam ruang kelas di SDN 005 Loa Buah dinilai menjadi salah satu kebutuhan prioritas agar sekolah tidak lagi menerapkan pembelajaran dua sif. Selain itu, pembangunan atau penyediaan ruang UKS, perbaikan pagar, serta pemenuhan tenaga pendidik juga perlu mendapat perhatian.
Novan menegaskan, pembenahan fasilitas harus berjalan beriringan dengan penataan layanan pendidikan, termasuk di sekolah filial yang memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda.
“Sekolah induk dan filial harus sama-sama diperhatikan,” ujarnya.
Dengan dukungan sarana, prasarana, dan tenaga pendidik yang memadai, proses pembelajaran di SDN 005 Loa Buah maupun SD Filial 005 Loa Kumbar diharapkan dapat berlangsung lebih optimal. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari memastikan setiap anak di wilayah Samarinda memperoleh akses pendidikan yang layak dan berkualitas.
Pewarta : Fathur Rabbany Editor : Fairuzzabady @2026












