KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan pengelolaan sampah di Kota Samarinda melahirkan sebuah komunitas baru bernama Sobat Darling atau Sekumpulan Orang Hebat yang Sadar Lingkungan. Komunitas ini hadir sebagai wadah kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui penguatan edukasi serta pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Komunitas yang dibentuk pada 1 Mei 2026 tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi kepemudaan, mahasiswa, relawan lingkungan, hingga kalangan akademisi. Beberapa pihak yang tergabung di antaranya Karang Taruna, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Politeknik Negeri Samarinda (POLNES), serta alumni POLNES yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup.
Penggagas Sobat Darling mengatakan, komunitas ini lahir dari keprihatinan terhadap masih tingginya persoalan sampah yang terjadi di berbagai wilayah Kota Samarinda. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dari solusi.
“Sobat Darling hadir sebagai ruang kolaborasi bagi masyarakat yang peduli lingkungan. Kami ingin menjadi mitra pemerintah sekaligus mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan melalui aksi nyata dan edukasi yang berkelanjutan,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada wartawan.
Ia menjelaskan, salah satu program utama yang akan dijalankan adalah sosialisasi dan edukasi lingkungan kepada masyarakat, khususnya terkait pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat. Karena itu, perubahan pola pikir dan budaya hidup bersih menjadi fokus utama yang ingin dibangun melalui berbagai kegiatan komunitas.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Jika masyarakat memiliki kepedulian yang tinggi, maka persoalan sampah akan jauh lebih mudah diatasi,” katanya.
Selain edukasi, Sobat Darling juga berencana membentuk satuan tugas atau satgas lingkungan yang bertugas membantu melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap berbagai pelanggaran terkait pengelolaan sampah di lapangan. Satgas tersebut diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan masyarakat dalam mendukung upaya penegakan aturan yang telah diterapkan pemerintah.
Ia menilai berbagai regulasi mengenai pengelolaan sampah sebenarnya sudah cukup lengkap, baik melalui peraturan daerah maupun peraturan wali kota. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan karena rendahnya kesadaran sebagian masyarakat.
“Banyak aturan yang sudah ada, tetapi pelanggaran pembuangan sampah masih sering terjadi. Karena itu kami ingin ikut berperan membantu mengawasi sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan,” tegasnya.
Tidak hanya berfokus pada pengawasan, Sobat Darling juga menaruh perhatian besar terhadap pengurangan sampah dari sumbernya. Salah satu program yang akan digencarkan adalah edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga.
Menurutnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan setiap hari berasal dari aktivitas rumah tangga. Oleh sebab itu, kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Kalau masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, beban tempat pembuangan akhir akan jauh berkurang. Ini menjadi salah satu gerakan yang akan terus kami kampanyekan kepada masyarakat,” ujarnya.
Di bidang pemberdayaan ekonomi, Sobat Darling juga berencana mengembangkan konsep bank sampah mandiri yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah, tetapi juga sebagai pusat pengolahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, selama ini sebagian besar bank sampah hanya berperan sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah dijual kepada pengepul. Padahal, banyak jenis sampah yang sebenarnya dapat diolah langsung menjadi produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Untuk sampah organik, komunitas ini akan mendorong pengolahan menjadi pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan penghijauan. Sementara untuk sampah plastik, peluang pengolahannya dinilai jauh lebih luas.
“Plastik sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar. Selain bisa didaur ulang menjadi berbagai produk kreatif, limbah plastik juga dapat diolah menjadi bahan bakar melalui teknologi pirolisis,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil pengolahan plastik juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan paving block, papan, genteng, atap, hingga berbagai produk konstruksi dan kerajinan yang memiliki nilai jual.
Melalui berbagai program tersebut, Sobat Darling berharap dapat menjadi contoh gerakan masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu menciptakan manfaat ekonomi melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga bisa menjadi sumber manfaat jika dikelola dengan baik. Harapan kami, semakin banyak masyarakat yang terlibat sehingga gerakan peduli lingkungan ini bisa berkembang lebih luas di Samarinda,” tutupnya.
Saat ini Sobat Darling mulai aktif turun ke berbagai lingkungan masyarakat untuk memperkenalkan program-programnya sekaligus mengajak warga berpartisipasi dalam gerakan menjaga kebersihan dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Pewarta : Fathur Rabbany Editor : Fairuzzabady @2026












