KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 dimanfaatkan Perempuan Mahardhika Samarinda untuk menyoroti kondisi buruh perempuan yang dinilai masih jauh dari kata sejahtera. Mereka menilai hingga kini belum ada perbaikan signifikan dalam aspek perlindungan, kesejahteraan, dan keadilan kerja bagi perempuan.
Melalui pernyataan sikapnya, organisasi ini mengungkapkan bahwa perempuan pekerja masih berada dalam posisi rentan. Sistem kerja yang tidak pasti, perlakuan diskriminatif, serta minimnya jaminan sosial menjadi persoalan yang terus berulang.
Tingginya angka pengangguran dan gelombang pemutusan hubungan kerja juga dinilai semakin menekan perempuan. Kondisi ini memaksa banyak dari mereka menerima pekerjaan dengan upah rendah dan status kerja yang tidak jelas demi memenuhi kebutuhan hidup.
Selain itu, mereka menilai realisasi program penciptaan lapangan kerja oleh pemerintah belum optimal. Perempuan masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang aman, tetap, dan layak.
Masalah diskriminasi dalam rekrutmen juga menjadi sorotan, seperti adanya batas usia, status pernikahan, hingga rencana memiliki anak yang dinilai tidak relevan. Kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan perempuan kepala keluarga, disebut semakin terpinggirkan dari akses kerja formal.
Perempuan Mahardhika Samarinda juga mengkritik menguatnya pendekatan represif yang dinilai membatasi kebebasan berserikat. “Kondisi ini membuat buruh, khususnya perempuan, semakin sulit memperjuangkan haknya,” tegas mereka.
Tak hanya itu, kekerasan di tempat kerja masih kerap terjadi, mulai dari pelecehan seksual, tekanan verbal, hingga ancaman kehilangan pekerjaan saat hamil. Banyak korban memilih diam karena takut kehilangan penghasilan.
Dalam tuntutannya, mereka mendesak pemerintah untuk menjamin pekerjaan yang aman dan layak, menghapus diskriminasi, serta memperkuat perlindungan terhadap perempuan dari segala bentuk kekerasan di dunia kerja.
“Perubahan hanya bisa terwujud melalui perjuangan kolektif yang terorganisir dan keberanian untuk bersuara,” tambah mereka.
Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian May Day di Samarinda, yang tidak hanya mengangkat isu ketenagakerjaan, tetapi juga menegaskan pentingnya keadilan gender dalam menciptakan sistem kerja yang inklusif.
Pewarta : Fathur Rabbany Editor : Fairuzzabady @2026












