KUTAIPANRITA.ID, SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai upaya pemerintah dalam penanganan penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC), telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Namun, keberhasilan mencapai target eliminasi TBC pada 2030 sangat bergantung pada perubahan perilaku dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan.
Hal tersebut disampaikannya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (10/6/2026). Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengendalian TBC saat ini tidak hanya terletak pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pada kondisi lingkungan dan pola hidup masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung terciptanya kehidupan yang sehat.
Sri Puji mengatakan masyarakat sering dihadapkan pada situasi yang bertolak belakang dengan upaya menjaga kesehatan. Polusi udara, paparan asap rokok, serta tingginya konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak menjadi faktor yang dapat menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Sekarang yang dibutuhkan itu sebenarnya edukasi kepada masyarakat. Kita ingin hidup sehat, tetapi lingkungan kita penuh asap rokok, makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Jadi membuat tubuh yang sehat itu tidak mudah karena lingkungan dan pola hidupnya juga tidak mendukung,” ujarnya.
Ia juga menyoroti semakin banyaknya makanan olahan dan camilan yang mengandung berbagai bahan tambahan sehingga perlu diimbangi dengan edukasi mengenai pola konsumsi yang sehat. Selain itu, pencemaran air, udara, dan tanah turut menjadi faktor yang dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
Menurut Sri Puji, pendidikan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat harus diperkuat sejak usia dini. Kebiasaan sederhana seperti menerapkan etika batuk, menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di tempat ramai, serta menjaga kebersihan diri perlu menjadi budaya di tengah masyarakat.
Ia menilai tempat-tempat umum yang padat, seperti pasar dan fasilitas publik lainnya, memiliki potensi menjadi lokasi penyebaran penyakit menular apabila kesadaran masyarakat terhadap pencegahan masih rendah.
“Kalau ada satu orang penderita TBC berada di tempat yang padat dan tertutup, tentu risiko penularannya tinggi. Karena itu edukasi tentang kesehatan harus terus dilakukan, tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan,” katanya.
Sri Puji menjelaskan bahwa meningkatnya angka temuan kasus TBC juga tidak selalu menunjukkan bertambahnya penyebaran penyakit, melainkan dapat dipengaruhi oleh semakin masifnya program skrining yang dilakukan pemerintah. Semakin banyak masyarakat yang diperiksa, semakin banyak pula kasus yang berhasil dideteksi dan dapat segera ditangani.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya ancaman kasus TBC resistan obat atau TB RO (Tuberculosis Resistant Organism) yang mulai ditemukan di Samarinda. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena membutuhkan penanganan yang lebih kompleks dibandingkan TBC biasa.
Selain itu, ia menyoroti posisi Samarinda sebagai kota terbuka yang menerima arus pendatang dari berbagai daerah. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat langkah-langkah preventif, salah satunya melalui pemeriksaan kesehatan sukarela di titik-titik kedatangan seperti pelabuhan dan terminal.
“Kami akan mengusulkan agar ada pemeriksaan kesehatan sukarela di pelabuhan atau terminal, misalnya tes TBC atau HIV. Samarinda ini kota terbuka, banyak pendatang yang datang dari berbagai daerah sehingga langkah pencegahan perlu diperkuat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sri Puji menilai tantangan pengendalian penyakit menular juga berkaitan dengan keberlanjutan dukungan program kesehatan dan ketersediaan obat yang harus dijamin secara berkesinambungan. Menurutnya, deteksi dini tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diikuti dengan akses pengobatan yang memadai bagi masyarakat.
Ia berharap Pemerintah Kota Samarinda dapat mengoptimalkan berbagai sumber pendanaan kesehatan, termasuk pemanfaatan dana bagi hasil cukai hasil tembakau, untuk memperkuat program pencegahan dan pengendalian penyakit menular seperti TBC dan HIV. Dengan kombinasi edukasi, deteksi dini, lingkungan yang sehat, serta layanan kesehatan yang berkualitas, target eliminasi TBC pada 2030 diyakini masih dapat diwujudkan.
ADV DPRD Kota Samarinda Pewarta : Fathur Rabbany Editor : Fairuzzabady @2026












