Menu

Mode Gelap
IKN Fun Day Kenalkan Batik Pewarna Alami Khas Kalimantan kepada Pengunjung Otorita IKN Matangkan Mitigasi Karhutla Hadapi Ancaman El Niño 2026 Andi Harun: Festival Budaya Harus Jadi Agenda Tetap yang Dilindungi Perda DPRD Samarinda Sepakati Enam Raperda Prioritas di Luar Propemperda 2026 DPRD Samarinda Pastikan Raperda di Luar Propemperda Tetap Melalui Tahapan Lengkap

BERITA DAERAH · 31 Okt 2023 10:45 WITA ·

Regenerasi Pembatik di Sekolah Menengah Sebagai Bekal Sektor Ekonomi Kreatif


 Regenerasi Pembatik di Sekolah Menengah Sebagai Bekal Sektor Ekonomi Kreatif Perbesar

KUTAIPANRITA.ID – Menjawab keprihatinan terhadap regenerasi batik tulis yang kian terdegradasi, Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim berkomitmen untuk menjaga dan menciptakan generasi baru dalam pelestarian budaya melalui cetak SDM pembatik.

Melalui kepala bidang pengembangan SDM Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Dahlia menyebut bahwa saat ini sendiri sudah ada sekolah-sekolah yang menghadirkan membatik sebagai muatan pembelajran maupun ekstrakuliker. Hal tersebut sangat berdampak positif terhadap regenerasi sektor industry batik di Kaltim, terutama dalam menarik minat anak muda dengan menyebarkan tren positif.

“Mereka dari usia sekolah itu sudah bisa membatik. Itu kalau mau lihat salah satunya yang saya baru tau itu ada di salah satu smk di kota tenggarong, Mereka tidak hanya membatik tapi mereka juga memahat,” ujar Dahlia.

Menurut Dahlia, muatan pelajaran budaya seni di sekolah menengah tidak hanya sebagai sarana pelestarian warisan budaya, namun juga erat hubungannya dengan Industri Kreatif yang merupakan  kegiatan ekonomi yang mencakup industri dengan kreativitas sumber daya manusia sebagai aset utama untuk menciptakan nilai tambah ekonomi.

“Jadi SMK kan jadi dia mengarah ke ekonomi kreatifnya ada, jadi mereka sudah mahir memahat, membatik itu sudah bisa karena memang ada pelajarannya dan itu mungkin memang minat mereka disitu juga,” lanjutnya.

Apalagi lanjutnya, anak muda dianggap lebih kreatif terutama dalam pembuatan motif, namun demikian perlu dituntun agar tidak lepas dari pakem dalam membatik.

“Jadi justru yang muda-muda ini dia lebih imajinatif untuk membuat motif. Nah tapi itu tadi harus diarahkan motif-motif itu tadi jangan lepas dari pakemnya,” terang Dahlia.

Namun selain dalam ranah Pendidikan/akademis regenerasi pembatik secara turun-temurun masih kurang. Hal ini yang menurutnya harus diperhatikan oleh para pembatik untuk turut berperan dalam regenerasi budaya warisan leluhur, yakni dengan mewariskan ilmu yang dimiliki ke generasi selanjutnya.

“Jadi kita memang kekurangan masalah itu, jadi untuk menampung generasi muda itu masih kurang sih ya karena sebenarnya itu mereka yang punya potensi dan yang seniornya harusnya bisa menurunkan ilmunya ke generasi muda. Jadi ada regenerasi jangan sampai hilang yang sudah ada selama ini harus diturunkan dari para tetua-tetua itu,” tutupnya.(adv/disparkaltim/al/fz)

Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Andi Harun: Festival Budaya Harus Jadi Agenda Tetap yang Dilindungi Perda

14 Mei 2026 - 11:00 WITA

DPRD Samarinda Sepakati Enam Raperda Prioritas di Luar Propemperda 2026

14 Mei 2026 - 10:00 WITA

DPRD Samarinda Pastikan Raperda di Luar Propemperda Tetap Melalui Tahapan Lengkap

14 Mei 2026 - 09:00 WITA

DPRD Samarinda Matangkan Raperda Pengelolaan Limbah B3, Sinkronisasi Aturan Jadi Sorotan

11 Mei 2026 - 17:00 WITA

Tiga Pansus DPRD Samarinda Mulai Bahas Raperda, Bapemperda Targetkan Regulasi Lebih Matang

11 Mei 2026 - 16:00 WITA

DPRD Samarinda Dorong Zona Khusus Reklame, Samri: Kota Harus Lebih Tertata

11 Mei 2026 - 15:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH