KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara menyoroti kondisi bahasa daerah yang semakin memprihatinkan. Banyak bahasa ibu di Kukar yang kini mengalami penurunan jumlah penutur, bahkan ada yang terancam punah akibat gempuran budaya luar dan derasnya arus informasi melalui media sosial.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, mengungkapkan bahwa ancaman ini nyata dan perlu ditangani secara serius. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025.
“Pelestarian bahasa ibu saat ini sangat memprihatinkan. Banyak bahasa daerah yang terancam punah. Karena itu, melalui FTBI ini kita berupaya menjaga dan mewariskan bahasa daerah khususnya kepada adik-adik kita di sekolah,” ujarnya, Sabtu (6/9/2025).
Puji menambahkan, FTBI merupakan bagian dari program nasional Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang dirancang untuk memperkuat identitas budaya bangsa. Agenda ini dilaksanakan berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota, berlanjut ke provinsi, hingga puncaknya di tingkat nasional.
Menurutnya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar. Budaya asing dengan mudah masuk lewat media sosial dan teknologi digital, sehingga berpotensi mengikis penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau tidak ada kesadaran sejak dini, bisa jadi bahasa daerah kita hanya akan menjadi cerita tanpa penutur di masa depan,” jelasnya.
Disdikbud Kukar berharap melalui FTBI dan program-program kebudayaan lainnya, siswa semakin bangga menggunakan bahasa ibu mereka. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong keterlibatan aktif guru, orang tua, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga kelestarian bahasa daerah. (ADV/DisdikbudKukar)
Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady












