KUTAIPANRITA.ID, KALIMANTAN TIMUR – Seekor induk orangutan ditemukan berjuang bertahan hidup bersama dua bayi kembarnya di kawasan hutan yang telah rusak. Peristiwa langka ini terungkap setelah warga melaporkan video yang memperlihatkan induk orangutan berjalan di area terbuka bersama kedua anaknya pada 15 Februari 2026 lalu.
Lokasi tersebut berada di kawasan konsesi perusahaan yang berbatasan dengan perkebunan sawit dan pertambangan batu bara. Menindaklanjuti laporan itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) dan sejumlah pihak langsung melakukan pengecekan lapangan.
Direktur dan Founder CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan awalnya tim belum yakin dengan laporan tersebut karena sering kali laporan serupa tidak berujung pada penemuan satwa.
“Kita dapat laporan dari masyarakat ada video viral induk dan bayi orangutan di area terbuka. Biasanya laporan seperti itu banyak, tapi saat dicek kadang orangutannya sudah tidak ada,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).
Setelah melakukan pemantauan selama dua hari, tim akhirnya menemukan induk orangutan tersebut. Yang mengejutkan, bayi yang menempel di tubuh induk ternyata berjumlah dua.
“Awalnya kami sempat ragu apakah itu bayi dari induk yang sama. Setelah kami lihat ukuran tubuhnya sama, akhirnya dipastikan itu bayi kembar,” jelas Paulinus.
Ia menyebut kelahiran kembar pada orangutan merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi di alam liar.
“Kasus seperti ini sangat langka. Orangutan biasanya hanya melahirkan satu anak,” katanya.
Meski demikian, kondisi habitat tempat mereka ditemukan justru memprihatinkan. Hasil pemantauan melalui drone dan citra satelit menunjukkan kawasan tersebut telah terfragmentasi dan tidak lagi memiliki daya dukung yang cukup.
Menurut Paulinus, kondisi itu sangat berat bagi induk orangutan yang harus menyusui dua bayi sekaligus.
“Kalau biasanya kebutuhan makan satu hari sekitar satu kilo, sekarang bisa dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan susu kedua bayinya. Sementara habitatnya sudah tidak mendukung,” terangnya.
Melihat kondisi tersebut, tim akhirnya memutuskan melakukan penyelamatan. Proses evakuasi sempat menunggu hingga induk orangutan turun dari pohon agar dapat dilakukan pembiusan dengan aman.
Namun momen yang terjadi justru di luar dugaan.
“Biasanya orangutan tidak mau turun dari pohon tinggi. Tapi kali ini induk dan anaknya turun ke tempat yang lebih rendah bahkan sampai ke tanah,” kata Paulinus.
Proses evakuasi pun berjalan relatif cepat. Kedua bayi orangutan tetap menempel pada induknya dan tidak menunjukkan perlawanan saat proses penyelamatan berlangsung.
“Biasanya bayi akan menangis atau berusaha lepas, tapi ini tidak. Mereka tetap menempel pada induknya. Buat kami ini seperti keajaiban,” ujarnya.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, mengatakan keputusan rescue diambil karena kondisi habitat yang tidak lagi aman bagi induk dan dua bayinya.
“Kami mendapat informasi adanya induk orangutan dengan dua anak di habitat yang terfragmentasi. Kondisi itu sangat berisiko sehingga diputuskan untuk melakukan rescue bersama mitra,” katanya.
Setelah pemeriksaan kesehatan dan dipastikan dalam kondisi baik, induk orangutan bersama kedua bayinya kemudian dipindahkan ke kawasan hutan yang lebih layak di area High Conservation Value (HCV) sebuah perusahaan.
Lokasi tersebut masih berada dalam satu lanskap di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.
“Kami memilih lokasi hutan terdekat agar tidak membebani kondisi induk dan bayinya yang sudah kelelahan. Berdasarkan kajian, kawasan itu masih layak untuk pelepasliaran,” jelas Ari.
Bagi para pegiat konservasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik keajaiban kelahiran bayi kembar, ada ancaman nyata terhadap habitat orangutan yang terus menyusut.
“Kasus ini menunjukkan orangutan masih berusaha bertahan di hutan-hutan kecil yang tersisa,” kata Paulinus.
Ia berharap peristiwa tersebut dapat menjadi pengingat bagi banyak pihak untuk lebih serius menjaga habitat satwa liar.
“Bayangkan saja jika seorang ibu memiliki bayi kembar tapi tidak punya rumah dan makanan. Itu kira-kira gambaran kondisi mereka di alam saat ini,” tutupnya.
Pewarta & Editor: Fairuzzabady @2026












