Menu

Mode Gelap
Hasil Usaha Koperasi Senyiur Indah Dialokasikan untuk Bangun 42 Rumah Karyawan Plasma Asap Kembali Terpantau, Otorita IKN Intensifkan Pemantauan Karhutla MBU CUP II 2026 Resmi Bergulir, Camat dan DPRD Kukar Dukung Pembinaan Talenta Lokal MBU CUP II 2026 Bergulir, 22 Tim Adu Kekuatan dan Jadi Ajang Pembinaan Talenta Muara Badak Tiga Hari Dicari, Karyawan PT EAS Ditemukan Tak Bernyawa di Sungai Belayan

SENI BUDAYA · 29 Sep 2025 10:15 WITA ·

Hari Ketujuh Erau, Ritual Mengulur Naga Jadi Puncak Kemeriahan


 Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar. Perbesar

Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar.

KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Hari ketujuh Festival Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi puncak dari seluruh rangkaian prosesi adat. Sejak pagi hingga siang hari, berbagai ritual digelar, salah satunya yang paling sakral adalah Mengulur Naga. Pada prosesi ini, sepasang replika naga diarak menggunakan perahu dari Keraton Kutai menuju Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga, Minggu (28/9/2025).

Upacara mengulur naga erat kaitannya dengan legenda Putri Karang Melenu, permaisuri Raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keduanya dipercaya bukan berasal dari manusia biasa, melainkan muncul melalui peristiwa gaib yang hingga kini diwariskan dalam legenda masyarakat Kutai. Dikisahkan, Aji Batara Agung Dewa Sakti ditemukan sebagai bayi di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam telur ayam dan tangan kiri memegang keris emas. Sementara itu, Putri Karang Melenu diyakini muncul dari pusaran Sungai Mahakam, terbaring di atas gong yang dijunjung seekor naga.

Replika naga dalam upacara ini melambangkan naga legendaris pengiring Putri Karang Melenu. Panjangnya mencapai sekitar 31,5 meter, dengan kepala dan ekor terbuat dari kayu, badan dari rangka rotan dan bambu yang dibalut kain kuning, serta sisik yang dihias kain perca warna-warni. Kedua naga, Naga Laki dan Naga Bini, dibuat sebelum Festival Erau berlangsung, lalu disemayamkan di kedua sayap Keraton Kutai (Museum Mulawarman).

Dalam prosesi, kedua naga diarak menggunakan kapal dari Keraton menuju Kutai Lama. Sepanjang perjalanan, kapal singgah di sejumlah titik untuk memberi kesempatan dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melaksanakan komunikasi spiritual dengan dunia gaib. Setibanya di Jaitan Layar, Kutai Lama, kapal berputar tujuh kali sebelum merapat ke tepian.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan pemisahan bagian kepala dan ekor naga dari tubuhnya. Kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton sebagai pusaka untuk Festival Erau di tahun-tahun berikutnya, sementara badan naga diturunkan ke Sungai Mahakam. Masyarakat pun berlomba mengambil bagian sisik naga, yang diyakini memiliki kekuatan membawa keberkahan serta mewujudkan harapan bagi pemiliknya.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 119 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Erau 2026 Dimulai, Pemkab Kukar Gandeng Kejaksaan Kawal Kegiatan dan Pulihkan Aset Daerah

20 Agustus 2026 - 14:00 WITA

Erau 2026 Tak Sekadar Perayaan, Kesultanan Dorong Pelestarian Nilai Adat dan Budaya

20 Agustus 2026 - 13:00 WITA

Dari Yogyakarta, Petala Borneo Promosikan Erau dan Bawa Musik Kutai ke Panggung Internasional

25 Juli 2026 - 17:00 WITA

Gotong Royong Sambut Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, Ketua Adat: Warisan Leluhur Harus Tetap Lestari

16 Juni 2026 - 12:00 WITA

FESTIVAL BUDAYA DAYAK KENYAH 2026

16 Juni 2026 - 09:00 WITA

Dari Mahakam ke Panggung Nasional, Achmad Fauzi Satukan Tingkilan dan Keroncong dalam “Rampak Jreng”

12 Juni 2026 - 15:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH