Menu

Mode Gelap
Komisi II DPRD Samarinda Pertanyakan Efektivitas Anggaran BPKAD dan Kontribusi Pelabuhan Palaran terhadap PAD Pemkot Samarinda Kebut Pelunasan Utang Rp400 Miliar, BPKAD Target Tuntas Akhir 2026 Komisi II DPRD Samarinda Minta BPKAD Buka Seluruh Data Utang Daerah, Iswandi: Jangan Hanya Sebut Rp400 Miliar Samarinda Kian Jadi Rujukan Nasional, Celni: Banyak Daerah Datang Belajar Inovasi dan Tata Kelola Komisi II DPRD Samarinda Soroti Lonjakan RKA BPKAD 2027, Iswandi: Anggaran Besar Harus Berdampak Nyata

SENI BUDAYA · 29 Sep 2025 10:15 WITA ·

Hari Ketujuh Erau, Ritual Mengulur Naga Jadi Puncak Kemeriahan


 Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar. Perbesar

Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar.

KUTAIPANRITA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Hari ketujuh Festival Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi puncak dari seluruh rangkaian prosesi adat. Sejak pagi hingga siang hari, berbagai ritual digelar, salah satunya yang paling sakral adalah Mengulur Naga. Pada prosesi ini, sepasang replika naga diarak menggunakan perahu dari Keraton Kutai menuju Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga, Minggu (28/9/2025).

Upacara mengulur naga erat kaitannya dengan legenda Putri Karang Melenu, permaisuri Raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keduanya dipercaya bukan berasal dari manusia biasa, melainkan muncul melalui peristiwa gaib yang hingga kini diwariskan dalam legenda masyarakat Kutai. Dikisahkan, Aji Batara Agung Dewa Sakti ditemukan sebagai bayi di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam telur ayam dan tangan kiri memegang keris emas. Sementara itu, Putri Karang Melenu diyakini muncul dari pusaran Sungai Mahakam, terbaring di atas gong yang dijunjung seekor naga.

Replika naga dalam upacara ini melambangkan naga legendaris pengiring Putri Karang Melenu. Panjangnya mencapai sekitar 31,5 meter, dengan kepala dan ekor terbuat dari kayu, badan dari rangka rotan dan bambu yang dibalut kain kuning, serta sisik yang dihias kain perca warna-warni. Kedua naga, Naga Laki dan Naga Bini, dibuat sebelum Festival Erau berlangsung, lalu disemayamkan di kedua sayap Keraton Kutai (Museum Mulawarman).

Dalam prosesi, kedua naga diarak menggunakan kapal dari Keraton menuju Kutai Lama. Sepanjang perjalanan, kapal singgah di sejumlah titik untuk memberi kesempatan dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melaksanakan komunikasi spiritual dengan dunia gaib. Setibanya di Jaitan Layar, Kutai Lama, kapal berputar tujuh kali sebelum merapat ke tepian.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan pemisahan bagian kepala dan ekor naga dari tubuhnya. Kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton sebagai pusaka untuk Festival Erau di tahun-tahun berikutnya, sementara badan naga diturunkan ke Sungai Mahakam. Masyarakat pun berlomba mengambil bagian sisik naga, yang diyakini memiliki kekuatan membawa keberkahan serta mewujudkan harapan bagi pemiliknya.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 87 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Gotong Royong Sambut Festival Budaya Dayak Kenyah 2026, Ketua Adat: Warisan Leluhur Harus Tetap Lestari

16 Juni 2026 - 12:00 WITA

FESTIVAL BUDAYA DAYAK KENYAH 2026

16 Juni 2026 - 09:00 WITA

Dari Mahakam ke Panggung Nasional, Achmad Fauzi Satukan Tingkilan dan Keroncong dalam “Rampak Jreng”

12 Juni 2026 - 15:00 WITA

Simfoni Swara Nusantara Semarakkan KIPP IKN, Perpaduan Musik dan Budaya Hidupkan Suasana

29 Maret 2026 - 10:00 WITA

Reog Ponorogo Semarakkan Bendungan Sepaku Semoi, Warga Antusias Kunjungi Ruang Publik Baru IKN

29 Maret 2026 - 09:00 WITA

Pelipur Lara Di Temindung, Petala Borneo Hidupkan Nafas Musik Tradisi

13 Februari 2026 - 08:00 WITA

Trending di BERITA DAERAH