Menu

Mode Gelap
Ketua RKM Kukar Soroti Protokol Kepresidenan, Sultan Kutai Dinilai Tak Dihormati Saat Kunjungan Presiden Prabowo Presiden Prabowo Kunjungi IKN, Pastikan Progres Pembangunan Berjalan Sesuai Rencana Kunjungan Perdana Presiden Prabowo ke IKN Disambut Optimisme Menuju Ibu Kota Masa Depan Perdana, Khidmat Sholat Subuh Berjamaah bersama Menteri Agama RI di Masjid Negara Bank Artha Graha Internasional, Electronic City, dan Grooceries City Telah Hadir di IKN

SENI BUDAYA · 10 Nov 2023 16:00 WITA ·

Nyelama Sakai dan Pepatai Tari Penyambutan Masyarakat Suku Dayak


 Nyelama Sakai dan Pepatai Tari Penyambutan Masyarakat Suku Dayak Perbesar

KUTAIPANRITA.ID – Tarian nyelama Sakai adalah ekspresi seni yang sangat istimewa dan penting bagi masyarakat desa budaya Lekaqidau, yang terletak di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara.

Tarian ini menjadi sebuah tanda penyambutan yang sangat ramah bagi para tamu yang mengunjungi desa budaya ini.

Menggambarkan kemegahan kebudayaan suku Dayak Kenyah, tarian ini dilakukan oleh para gadis muda yang memiliki kecantikan yang mempesona.

Dengan memainkan gerakan anggun dan elegan, para penari membawa pesan kasih sayang dan kegembiraan kepada tamu yang datang.

Dengan penuh rasa sukacita dan semangat, para penari nyelama Sakai ini memberikan sambutan yang hangat kepada setiap tamu yang datang.

Dengan menggunakan gerakan tangan yang lembut dan gerakan tubuh yang lincah, mereka menunjukkan kehangatan dan keramahtamahan suku Dayak Kenyah.

Seluruh prosesi tarian ini berlangsung di rumah adat, tempat di mana tamu terhormat disambut dengan penuh keceriaan.

Dekorasi yang indah dan kaya makna juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tarian nyelama Sakai ini. Dengan pencahayaan yang hangat dan musik yang mengalun merdu, suasana magis tercipta di sekeliling penonton.

Tarian nyelama Sakai tidak hanya menjadi sarana untuk menyambut tamu yang datang dari luar, tetapi juga melambangkan rasa bangga atas warisan budaya yang dimiliki oleh suku Dayak Kenyah.

Dalam gerakan dan melodi yang disajikan, cerita masa lalu dan keberagaman tradisi diperlihatkan kepada para tamu, mengingatkan mereka akan pentingnya memelihara dan menghargai warisan budaya kita.

Dengan keindahan yang memukau, tarian nyelama Sakai bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga simbol keramahan dan keragaman budaya yang dijunjung tinggi oleh desa budaya Lekaqidau.

Setiap gerakan penari mengalir seperti air yang deras, menghadirkan kehangatan yang khas dari masyarakat suku Dayak Kenyah.

Menyaksikan tarian nyelama Sakai, tamu yang datang pasti akan merasa terpesona dan terkesan oleh kehangatan dan keramahan masyarakat suku Dayak Kenyah.

Tarian ini menjadi wujud nyata dari keindahan tradisi dan budaya yang tumbuh dan berkembang di desa budaya yang unik ini. Upacara adat dan festival budaya sering kali menjadi momen yang tepat untuk menampilkan tarian ini.

Selain tarian lama Sakai yang telah menjadi tradisi turun-temurun, ada juga tarian yang berbeda yaitu tarian diam yang masih dilestarikan hingga saat ini dan sangat menarik untuk ditonton.

Tarian yang dimaksud adalah tari papatai, yang mengisahkan tentang persaingan dua pemuda tampan yang saling bersaing memperebutkan hati seorang putri cantik yang memesona.

Tarian ini begitu memesona dan memikat karena menggambarkan perjuangan cinta dan keindahan yang tak tergantikan.

Dalam gerakan yang disinkronkan dengan indah, tarian papatai menghadirkan suasana yang memikat hati penonton, seolah-olah membawa mereka ke dalam dunia di mana perasaan cinta dan gairah merebak di udara.

Semua detail tarian ini terpelihara dengan baik, termasuk kostum khas yang dipakai oleh para penari, musik yang mengiringi langkah mereka, dan makna simbolis di balik setiap gerakan elegan yang dihasilkan.

Setiap kali tarian papatai dipentaskan, penonton tidak dapat menghindar dari pesona dan kekaguman yang dirasakan ketika melihat kekuatan emosional yang terpancar dari setiap penari.

Selain menjadi simbol kekayaan budaya suatu daerah, tarian papatai juga menjadi cermin dari keindahan hidup dan keberagaman manusia, serta kemampuan kita untuk mengungkapkan perasaan dan emosi melalui gerakan tubuh yang menakjubkan.

Gerak tari yang lemah gemulai serta energik membuat tari papatai menjadi sangat menarik ketika disaksikan oleh para penonton yang tertarik dengan seni keindahan dan keluwesan gerakan tari tradisional.

Venny, salah satu penari berharap tarian ini dapat semakin dikenal di masyarakat luas tidak hanya masyarakat lokal, namun juga hingga ke mancanegara

“Harapannya kedepan yaitu semoga budaya Desa budaya letak kicau itu maju dan perekonomiannya juga maju dan kebudayaannya juga maju dan supaya bisa dikenal oleh masyarakat dimanapun di dalam negeri maupun di luar negeri,” ujar Venny.

Biasanya, tarian ini dibawakan pada saat upacara adat yang diadakan oleh suku Dayak Kenyah, sebagai bagian dari budaya yang kaya dan bernilai tinggi.

Papatai juga sering ditampilkan sebagai bentuk penyambutan tamu yang datang ke daerah ini, atau sebagai hiburan dalam acara festival budaya untuk menghibur penonton yang hadir dalam suasana meriah.

Dalam tari ini, ekspresi serta keserasian gerakan tubuh, langkah-langkah presisi, dan kekompakan antara para penari menciptakan suasana yang sangat memukau dan meningkatkan daya tarik penampilan tersebut.

Melalui ragam seni budaya suku Dayak Kenyah ini, diharapkan agar generasi muda yang merupakan penerus budaya dapat terus melestarikan kekayaan budaya warisan leluhur yang dimiliki oleh Kutai Kartanegara, sehingga tidak tergantikan oleh perkembangan zaman yang semakin modern dan menjaga agar budaya tradisional tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.(adv/disparkaltim/al/fz)

Artikel ini telah dibaca 1,085 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Rayakan Ragam Kesenian Nusantara:Otorita IKN Gelar Malam Apresiasi Insan Budaya, Pariwisata, dan Ekraf

7 Desember 2025 - 13:15 WITA

Prosesi Merebahkan Tiang Ayu, Tanda Berakhirnya Erau Adat Kutai 2025

29 September 2025 - 13:15 WITA

Ritual Sakral Hingga Belimbur Warnai Penutup Erau Adat Kutai 2025

29 September 2025 - 11:15 WITA

Hari Ketujuh Erau, Ritual Mengulur Naga Jadi Puncak Kemeriahan

29 September 2025 - 10:15 WITA

Malam Ketujuh Erau Adat Kutai, Ritual Menyisik Lembuswana dan Seluang Mudik Betebak Beras Warnai Prosesi Sakral

29 September 2025 - 09:15 WITA

Erau 2025 Angkat Pariwisata dan Ekonomi Lokal, Tradisi Beseprah Jadi Magnet Wisata Budaya

25 September 2025 - 15:15 WITA

Trending di BERITA DAERAH